Peristiwa

Diky Candra: Zikir di Masjid Al-Mujahidin Obat Polarisasi & Lesu Pasar

×

Diky Candra: Zikir di Masjid Al-Mujahidin Obat Polarisasi & Lesu Pasar

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra memimpin kegiatan zikir dan selawat bersama ratusan jemaah termasuk pedagang Pasar Cikurubuk di Masjid Al-Mujahidin,
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra memimpin kegiatan zikir dan selawat bersama ratusan jemaah termasuk pedagang Pasar Cikurubuk di Masjid Al-Mujahidin,

TASIKMALAYA – Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra menegaskan bahwa zikir dan selawat di Masjid Al-Mujahidin, Rabu (14/10/2026), bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan strategi sosial untuk merajut kembali *persatuan Tasikmalaya* yang terkoyak polarisasi. Ia mengakui bahwa kebaikan sering kali kalah karena terkotak-kotak dan mudah diadu domba. “Niat baik tanpa kebersamaan kehilangan daya ubah,” ujarnya.

Momentum spiritual ini dijadikan sarana rekonsiliasi lintas kelompok, mengingatkan warga bahwa perbedaan pandangan harus dikelola melalui dialog dewasa, bukan permusuhan yang justru melemahkan ketahanan sosial kota di tengah dinamika politik nasional yang kerap memicu gesekan horizontal di tingkat akar rumput.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi respons terhadap tekanan ekonomi yang mencekik para pedagang Pasar Cikurubuk. Ketua Hipatas H. Jahid mengungkapkan bahwa penurunan daya beli masyarakat berdampak langsung pada lesunya transaksi. Kenaikan harga komoditas strategis seperti telur, yang kini terserap program Makan Bergizi Gratis (MBG), memperparah kondisi tersebut. Dalam konteks ini, zikir berfungsi sebagai penguat mental agar pedagang tidak lumpuh oleh ketidakpastian pasar.

Namun, Jahid menekankan bahwa ketenangan batin harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata; doa tanpa kerja keras hanyalah pasrah pasif yang tidak akan memperbaiki neraca keuangan keluarga maupun stabilitas suplai barang di kawasan perdagangan vital tersebut.

Ketua Dewan Penasihat Hipatas KH. TB Miftah Fauzi menambahkan prinsip egaliter dalam pengelolaan pasar: “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Tidak boleh ada superioritas yang mendominasi pengambilan keputusan. Prinsip ini sejalan dengan pesan Wawali Diky tentang pentingnya komunikasi terbuka. Ketika ego sektoral atau kelompok dilebur dalam kesetaraan spiritual, ruang kolaborasi antara pedagang, pemerintah, dan ormas dapat terbangun lebih kokoh.

Sinergi inilah yang menjadi fondasi *ketahanan ekonomi pasar* tradisional yang selama ini rentan terhadap guncangan eksternal maupun konflik internal antar-pemangku kepentingan yang saling curiga dan enggan berkompromi demi kepentingan bersama.

Pada akhirnya, integrasi antara penguatan spiritual dan solusi pragmatis menawarkan model penanganan krisis multidimensi. Tasikmalaya membutuhkan pemimpin dan tokoh masyarakat yang mampu menerjemahkan nilai-nilai ukhuwah menjadi kebijakan inklusif dan aksi ekonomi yang membumi. Jika zikir hanya berhenti di masjid tanpa tindak lanjut berupa perbaikan tata kelola pasar dan stabilisasi harga, maka esensi kebersamaan akan menguap sia-sia.

Keberhasilan Wawali Diky dan Hipatas diukur dari kemampuan mereka mengubah energi ibadah menjadi produktivitas nyata, memastikan bahwa persatuan yang digaungkan benar-benar bermuara pada kesejahteraan warga yang semakin tangguh menghadapi badai ekonomi maupun sosial.