Edukasi

Syekh Nuryayi: Mutiara di Jejak Islam Garut

×

Syekh Nuryayi: Mutiara di Jejak Islam Garut

Sebarkan artikel ini
Makam Syekh Nuryayi
Makam Syekh Nuryayi Garut

Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat

ADA satu hal yang sering terjadi dalam sejarah.

Orang-orang besar justru sering kalah terkenal dibanding tempat yang mereka tinggali.

Itulah yang mungkin terjadi pada Embah Nuryayi atau Syekh Nuryayi.

Banyak orang mengenal Godog. Banyak pula yang mengenal kawasan Suci sebagai salah satu pusat perkembangan Islam tua di Kabupaten Garut. Sebagian mengetahui keberadaan makam-makam para tokoh penyebar Islam di kawasan tersebut. Namun tidak banyak yang benar-benar memahami siapa sosok Embah Nuryayi dan mengapa namanya memiliki posisi penting dalam silsilah dakwah Islam di Priangan Timur.

Padahal jika mata rantai sejarah itu disusun secara utuh, Embah Nuryayi bukanlah tokoh yang berdiri sendiri.

Ia merupakan bagian dari jalur panjang Islamisasi Tatar Sunda yang dimulai sejak era runtuhnya Pajajaran.

Sejarah Islam di Garut tidak lahir dari ruang kosong.

Literatur sejarah lokal Godog, Limbangan, hingga tradisi lisan masyarakat Sunda menunjukkan bahwa kawasan Godog-Suci telah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam sejak awal abad ke-16.

Masa itu adalah periode transisi besar.

Kerajaan Pajajaran sedang mengalami kemunduran. Di pesisir utara Jawa Barat, kekuatan Islam Cirebon berkembang pesat di bawah kepemimpinan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Di tengah perubahan besar tersebut muncul nama Raja Sangara.

Dalam tradisi masyarakat Garut, sosok ini lebih dikenal sebagai Prabu Kiansantang atau Sunan Rohmat Suci, putra Prabu Siliwangi.

Terlepas dari berbagai perdebatan akademik mengenai aspek historis dan mitologis tokoh ini, hampir seluruh tradisi lisan Sunda sepakat bahwa nama Kiansantang memiliki posisi sentral dalam narasi masuknya Islam ke wilayah pedalaman Priangan.

Dari Godog-Suci, dakwah kemudian bergerak ke berbagai wilayah.

Ke Sancang di pesisir selatan.

Ke Timbanganten yang kini menjadi kawasan Tarogong-Leles.

Ke Panembong, Bayongbong hingga Batuwangi.

Islam menyebar melalui pendekatan budaya, kekerabatan dan pendidikan.

Bukan dengan penaklukan.

Di antara para pengikut Raja Sangara terdapat kalangan bangsawan Sunda yang telah memeluk Islam.

Salah satunya adalah Prabu Wijayakusumah atau Adipati Limansenjaya Kusumah, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cipancar.

Nama ini penting.

Sebab dari sinilah terlihat bahwa proses Islamisasi di Priangan tidak dilakukan oleh kalangan ulama semata, tetapi juga melibatkan elite politik lokal.

Islam masuk ke dalam struktur kekuasaan.

Masuk ke dalam keluarga-keluarga bangsawan.

Masuk ke pusat pemerintahan.

Kemudian berkembang menjadi tradisi sosial masyarakat.

Keluarga besar Dalem Pagerjaya di Godog merupakan salah satu simpul penting jaringan tersebut.

Dari garis keluarga inilah kelak lahir seorang anak bernama Nuryayi.

Sekitar awal abad ke-18.

Di tengah masyarakat Suci yang mulai berkembang sebagai komunitas Islam, lahirlah seorang anak dari keluarga bangsawan Rancakalong.

Namanya Nuryayi.

Menurut catatan KH Abdul Halim, putra KH Abdullah Mukilam, Embah Nuryayi merupakan putra Dalem Puspadirana yang masih termasuk keturunan keluarga besar Dalem Pagerjaya.

Artinya, secara genealogis Embah Nuryayi bukan hanya memiliki hubungan dengan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga dengan struktur aristokrasi Sunda-Islam yang berkembang di wilayah Limbangan dan Godog.

Di sinilah letak keistimewaannya.

Ia lahir dari persimpangan dua tradisi besar.

Tradisi ulama dan tradisi bangsawan.

Ketika beranjak dewasa, Nuryayi memilih jalan ilmu.

Ia meninggalkan kampung halamannya untuk berguru kepada salah satu ulama terbesar di tanah Sunda: Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.

Nama Abdul Muhyi memiliki posisi sangat penting dalam sejarah Islam Jawa Barat.

Jika Cirebon memiliki Sunan Gunung Jati, maka Priangan memiliki Abdul Muhyi.

Beliau dikenal sebagai penyebar Tarekat Syattariyah sekaligus penghubung jaringan ulama Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.

Melalui tangan Abdul Muhyi, Islam di Priangan memperoleh fondasi intelektual yang kuat.

Bukan hanya Islam sebagai agama.

Tetapi Islam sebagai tradisi ilmu.

Sebagai peradaban.

Sebagai sistem pendidikan.

Dalam berbagai literatur sejarah Islam Sunda, murid-murid Abdul Muhyi kemudian menyebar ke berbagai wilayah untuk membangun pusat-pusat pendidikan baru.

Embah Nuryayi termasuk dalam jaringan besar itu.

Tidak hanya kepada Abdul Muhyi.

Riwayat juga menyebut Embah Nuryayi berguru kepada Syekh Wali Jafar Sidik di Cibiuk.

Bahkan sejumlah sumber tradisional menyebut ia pernah menuntut ilmu hingga Cirebon, Ampel Surabaya, Ambon dan Ternate.

Mungkin sebagian kisah tersebut masih membutuhkan penelitian akademik lebih lanjut.

Namun satu hal yang tidak dapat dibantah adalah keluasan jaringan intelektual yang dimiliki Embah Nuryayi.

Ia bukan ulama kampung dalam pengertian sempit.

Ia bagian dari jejaring ulama Nusantara.

Sebuah jaringan yang pada abad ke-17 dan ke-18 menjadi fondasi utama penyebaran Islam di Indonesia.

Sepulang dari pengembaraan ilmunya, Embah Nuryayi tidak memilih menjadi pejabat.

Ia memilih menjadi pendidik.

Mendirikan pesantren.

Membina masyarakat.

Menyebarkan ilmu.

Pesantren yang didirikannya di Cibangban dan Rancakalong kemudian menjadi pusat kaderisasi keagamaan masyarakat sekitar.

Peran seperti ini sering kali tidak tercatat dalam dokumen resmi kolonial.

Namun pengaruhnya justru bertahan lebih lama dibanding kekuasaan politik.

Karena yang diwariskan bukan jabatan.

Melainkan ilmu.

Bukan kekuasaan.

Melainkan murid.

Di sinilah posisi historis Embah Nuryayi menjadi penting.

Ia adalah generasi kedua atau ketiga setelah fase awal Islamisasi Godog.

Jika Raja Sangara dan para pengikutnya adalah pembuka jalan, maka Embah Nuryayi adalah pengokoh fondasi.

Ia hidup pada masa ketika Islam tidak lagi sekadar diperkenalkan.

Tetapi mulai dilembagakan.

Mulai diajarkan secara sistematis.

Mulai membentuk tradisi sosial masyarakat.

Dengan kata lain, jika generasi awal membangun pintu masuk Islam di Garut, maka Embah Nuryayi membantu membangun rumahnya.

Hari ini nama Embah Nuryayi mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh besar dalam buku sejarah nasional.

Namun dalam konteks Garut dan Priangan, kedudukannya tidak dapat dipandang kecil.

Ia adalah penghubung antara warisan Islam Godog abad ke-16 dengan perkembangan pesantren-pesantren Sunda pada abad berikutnya.

Ia adalah mata rantai yang menyambungkan dakwah Prabu Kiansantang, jaringan Syekh Abdul Muhyi, dan tradisi pesantren Garut yang masih hidup hingga hari ini.

Sejarah sering kali hanya mengingat mereka yang mendirikan kerajaan.

Padahal peradaban lebih sering dibangun oleh mereka yang mendirikan pesantren.

Dan di antara nama-nama itu, Embah Nuryayi adalah salah satu yang patut ditempatkan kembali pada posisi yang layak dalam sejarah Islam Jawa Barat.

Sebab jejaknya mungkin tidak banyak tertulis di batu prasasti.

Tetapi pengaruhnya masih hidup dalam ingatan masyarakat, tradisi pesantren, dan denyut Islam di tanah Garut hingga hari ini.