TEHERAN – Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak akhir Februari memunculkan pertanyaan besar di kawasan Timur Tengah: siapa sebenarnya yang menang?
Meski harus menghadapi kerusakan besar akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, Iran dinilai keluar dari konflik dalam posisi lebih kuat. Hal tersebut mengemuka di tengah dimulainya perundingan menuju kesepakatan damai permanen antara Washington dan Teheran.
Dalam program Inside Story yang disiarkan Al Jazeera, sejumlah pengamat menilai keberhasilan terbesar Iran bukan sekadar bertahan dari perang, melainkan menggagalkan tujuan utama Amerika Serikat untuk mendorong perubahan rezim di Teheran.
“Tujuan Amerika Serikat pada awal perang adalah mengganti pemerintahan Iran. Namun itu tidak pernah terjadi,” demikian disebutkan dalam laporan yang disampaikan jurnalis Nargis Mobalafi.
Perang yang berlangsung lebih dari 100 hari itu disebut telah mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah secara signifikan. Selain menimbulkan kerusakan luas di Iran, konflik juga memicu ketegangan baru antara Teheran dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Selama perang berlangsung, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara di kawasan yang menurut Teheran menjadi lokasi pangkalan dan aset militer Amerika Serikat. Namun negara-negara Teluk menyatakan sejumlah fasilitas sipil juga terdampak serangan tersebut.
Akibatnya, hubungan diplomatik Iran dengan negara-negara GCC mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi semakin diperburuk oleh krisis di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Profesor Hubungan Internasional dari University of Cambridge, Professor Foreman, menilai Iran memperoleh keuntungan strategis dari perang tersebut karena berhasil menunjukkan kemampuannya mengendalikan Selat Hormuz.
“Selat Hormuz kini menjadi kartu strategis yang sangat penting bagi Iran. Sebelum perang, pengaruh itu belum terlihat sejelas sekarang,” ujarnya.
Menurut Foreman, kemampuan Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz telah memaksa Washington menjadikan pembukaan kembali jalur tersebut sebagai prioritas utama dalam perundingan damai.
Selain itu, perang juga memunculkan efek domestik yang menguntungkan pemerintah Iran. Ancaman eksternal membuat masyarakat bersatu mendukung negara mereka sehingga memperkuat posisi pemerintah di dalam negeri.
“Populasi Iran bersatu menghadapi perang. Hal itu membuat pemerintah merasa lebih aman dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Meski demikian, kemenangan yang diklaim Teheran harus dibayar mahal. Infrastruktur penting mengalami kerusakan akibat bombardemen Amerika Serikat dan Israel, sementara hubungan Iran dengan sejumlah negara Teluk membutuhkan upaya panjang untuk dipulihkan.
Saat ini, kedua negara telah menyepakati nota kesepahaman awal yang menjadi dasar perundingan lanjutan menuju kesepakatan damai permanen. Sejumlah isu strategis seperti pembukaan Selat Hormuz, pencabutan blokade ekonomi, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta program nuklir Iran masih menjadi materi negosiasi.
Bagi Iran, bertahannya pemerintahan dan gagalnya agenda perubahan rezim menjadi modal utama untuk mengklaim kemenangan. Namun bagi banyak pengamat, penilaian akhir atas perang ini baru akan terlihat ketika proses rekonstruksi dan diplomasi pascaperang benar-benar dimulai.








