GARUT – Kiprah ‘Aisyiyah di Milad ke-109 di apresiasi baik oleh Pemerintah Kabupaten Garut maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pendidikan dan kesehatan jadi bukti dakwah nyata organisasi perempuan Islam tertua.
Hal itu terungkap dalam puncak Milad ‘Aisyiyah digelar di Aula Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Cilawu, Senin 22 Juni 2026.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin bangga eksistensi ‘Aisyiyah di Garut. Organisasi ini lahirkan tokoh besar, termasuk menteri. ‘Aisyiyah juga kelola sebagian dari 2.600 PAUD di Garut.
Syakur titip pesan krusial ke kader ‘Aisyiyah: bantu turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi, tangani stunting dari keluarga, serta edukasi penyakit campak dan paru-paru. “Tolong jelaskan ke masyarakat supaya lebih aware terhadap upaya pemerintah tingkatkan kesehatan Garut,” pinta Syakur.
Gubernur Dedi Mulyadi sebut dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah keren karena tak sebatas mimbar. “Dakwah itu bahwa manusia harus dapat lentera matahari. Maka gerakan Muhammadiyah adalah gerakan hilangkan kebutaan,” tegas Dedi.
Ia nilai sejak pra-kemerdekaan, ‘Aisyiyah pelopori pendidikan formal modern dari desa hingga kota. Lahirkan teknokrat, politisi, hingga penggerak tata kelola negara. Dedi ajak ormas lain tiru langkah nyata ini.
Ketua PW ‘Aisyiyah Jabar Ia Kurniati sebut usia ‘Aisyiyah genap 109 tahun pada 19 Mei 2026. Tema milad kali ini “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.”
Ia ingatkan Garut daerah pertama di Jabar terima estafet Muhammadiyah dari Yogyakarta. Ia apresiasi keturunan pendiri ‘Aisyiyah Garut: Ibu Yati, Ibu Yeti, dan Ibu Nani.
Wakil Ketua PWM Jabar Yadi Janwari ingatkan Milad 109 ‘Aisyiyah beriringan dengan Milad 113 Muhammadiyah. Lebih seabad bergerak, kader diminta tingkatkan kualitas diri demi bangsa.
‘Aisyiyah diminta terus jadi lentera. Dari PAUD hingga klinik kesehatan, kerja nyata ditunggu untuk tekan AKI, AKB, dan stunting di Garut.








