Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mendorong bank-bank kecil di Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 untuk segera naik kelas atau melakukan konsolidasi. Kebijakan ini seiring rencana OJK menghapus kategori KBMI 1 dan menyederhanakan klasifikasi perbankan nasional menjadi hanya tiga kelompok.
KBMI 1 selama ini diisi bank dengan modal inti Rp 3 triliun hingga Rp 6 triliun. Namun ke depan, bank-bank dalam kelompok ini diminta melakukan merger, akuisisi, atau mencari mitra strategis agar dapat masuk ke KBMI 2. Kebijakan ini tidak berlaku bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang akan mendapat skema penguatan permodalan tersendiri.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa konsolidasi menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan ekonomi global dan disrupsi teknologi yang kian masif.
“Size does matter. Bank yang lebih besar akan lebih efisien, kuat secara permodalan, dan mampu berinvestasi di teknologi,” ujar Dian.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya bertujuan menaikkan modal inti, tetapi juga mengurangi jumlah bank agar industri perbankan nasional lebih sehat dan kompetitif. OJK saat ini masih mengedepankan pendekatan persuasif dengan mengirimkan surat imbauan kepada seluruh bank KBMI 1 untuk mengeksplorasi peluang konsolidasi.
Reaksi Pasar dan Saham Bank KBMI 1
Rencana penghapusan KBMI 1 langsung memantik reaksi pasar. Investor menilai kebijakan ini berpotensi membuka gelombang aksi korporasi baru, mulai dari rights issue hingga merger dan akuisisi.
Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai kebijakan OJK menjadi katalis utama pergerakan saham bank-bank kecil sepanjang 2025.
“Pasar sudah mem-price in potensi konsolidasi. Saham KBMI 1 cenderung menguat, meski volatilitasnya tinggi,” kata Wafi.
Beberapa saham bank KBMI 1 yang sempat mencatat reli kuat antara lain Bank Jago (ARTO), Bank Raya (AGRO), Bank Neo Commerce (BBYB), Bank Oke Indonesia (DNAR), hingga Bank Panin Syariah (PNBS). Namun, Wafi mengingatkan risiko tetap besar bagi bank yang gagal memenuhi kebutuhan tambahan modal.
Strategi Investor: Trading, Bukan Investasi Jangka Panjang
Wafi menyarankan investor lebih mengedepankan strategi trading jangka pendek dibandingkan investasi jangka panjang, mengingat pergerakan saham KBMI 1 masih didorong sentimen regulasi, bukan fundamental.
Ia merekomendasikan saham ARTO dengan target Rp 2.200, AGRO di kisaran Rp 350, serta BBYB dengan target Rp 500 per saham, seiring ekspektasi aksi korporasi dan penguatan bisnis digital.
OJK menegaskan, kebijakan ini dilandasi kebutuhan Indonesia memiliki bank-bank besar dengan daya saing kuat, efisiensi tinggi, dan kemampuan pendanaan teknologi yang memadai.




