Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat
SAYA tercengang melihat hitung-hitungan video yang diunggah akademisi ITB terkenal Alif Hijriah melalu akun TikTok @Alif Towew. Sangat matematis. Jernih. Sekaligus bikin elus dada.
Anda sudah tahu: Kortastipidkor Polri lagi mengusut korupsi besar. Kasus pengadaan batu bara untuk PLTU milik PLN sejak 2018 hingga 2026. Angkanya bikin silau, kerugiannya disebut-sebut mencapai Rp5 triliun hingga Rp15 triliun! Ada brankas rahasia di dalam tembok yang disita.
Tapi, mengapa korupsi ini dicap “paling jahat” oleh netizen?
Jawabannya bukan cuma soal uang yang dimaling. Melainkan logika fisika di balik pembangkit listrik kita.
Di kontrak tertera PLN membeli batu bara dengan kualitas 4.800 GAR. Tapi yang dikirim pencuri itu hanya kualitas 3.000 GAR. Di sinilah bencana bermula.
Batu bara berkalori rendah itu ibarat kayu basah. Dibakar cepat habis, tapi uap panasnya kurang. Rumus fisikanya jelas: kecepatan menyusutnya volume batu bara berbanding terbalik dengan nilai kalorinya. Akibatnya? Batu bara di dalam boiler pembangkit habis 60 persen lebih cepat dari perhitungan normal!
Di atas kertas laporan, manajemen PLN mungkin tersenyum. Stok batu bara aman untuk 30 hari operasi (HOP). Aman sekali. Tapi itu kertas. Kenyataan di dalam boiler berkata lain. Karena kalorinya rendah, baru 18 hari dibakar, batu baranya sudah lumat jadi abu. Habis bis.
Ada defisit 11 hari lebih yang tidak terencana.
Dampaknya mengerikan: pasokan uap drop, turbin melambat, generator kekurangan daya. Dan… Pet! Jawa-Sumatra mengalami blackout. Mati lampu massal.
Netizen pun mengamuk di kolom komentar. Mereka sadar, yang dirampok bukan cuma uang negara di dalam brankas tembok itu. Kenyamanan kita, AC yang mati di tengah cuaca panas, industri yang merugi, hingga rasa aman masyarakat ikut dimaling secara sistematis lewat kalori batu bara yang disunat.
Sebuah kejahatan yang dikemas rapi dalam hitungan angka, tapi dampaknya dirasakan langsung oleh jutaan manusia yang kegelapan.




