Edukasi

Hasan Mustapa: Sang Penengah Ulama yang Eksentrik

×

Hasan Mustapa: Sang Penengah Ulama yang Eksentrik

Sebarkan artikel ini
H Hasan Mustafa
Haji Hasan Mustapa, ulama eksentrik yang menyatukan ulama Garut dan Nusantara.

BANDUNG – Mari kita sejenak berpikir, apa yang membuat seorang tokoh abadi? Apakah karena jabatannya yang tinggi? Atau karena kekayaannya yang melimpah? Sejarah Jawa Barat memberikan jawaban lain: Haji Hasan Mustapa. Ia abadi bukan karena kekuasaan, tapi karena kemampuannya merajut benang-benang persatuan yang hampir putus.

Kang Oos Supyadin, pegiat Majelis Adat Sunda (MASDA) dan Dewan Adat Kabupaten Garut (DAKG), membuka lembaran sejarah tahun 1882. Saat itu, Garut sedang panas. Bukan karena cuaca, tapi karena ketegangan antar-ulama. Perbedaan paham menggerogoti kerukunan. Di tengah kegamangan itu, Raden Haji Muhammad Musa, Hoofd Penghulu Garut kala itu, mengambil keputusan berani: memanggil pulang seorang pemuda dari Mekkah.

Pemuda itu adalah Haji Hasan Mustapa.

Bayangkan, di usia muda, sedang asyik mendalami ilmu di Tanah Suci, ia harus pulang. Tugasnya berat: menjadi juru damai. “Berkat kearifan dan kedalaman ilmunya, ia berhasil menyatukan hati para ulama,” kata Kang Oos. Hasilnya? Damai tercipta. Dan sebagai apresiasi, pada tahun yang sama, ia diangkat menjadi Godsdienstleeraar atau Guru Agama Resmi di Garut.

Tapi, Hasan Mustapa bukan sekadar birokrat agama biasa. Ia adalah fenomena. Lahir di Cikajang, Garut, pada 3 Juni 1852, ia tumbuh menjadi sosok yang oleh masyarakat dijuluki “Haji Mahiwal”. Artinya: aneh, atau lebih tepatnya, lain dari yang lain. Ia eksentrik. Pemikirannya dalam, namun caranya menyampaikan sering kali tidak lazim.

Keunikan inilah yang membuatnya dekat dengan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang kontroversial. Bagi sebagian orang, ini noda. Bagi saya, ini bukti keluasan wawasan Hasan Mustapa. Ia mampu berdialog dengan lawan ideologi demi kepentingan yang lebih besar. Ia pernah menjadi Penghulu Besar di Aceh, lalu pindah ke Bandung. Jejaknya membentang dari ujung Sumatera hingga jantung Pasundan.

Namun, warisan terbesarnya mungkin bukan jabatan, melainkan karya. Ia menulis lebih dari 10.000 bait puisi dangding. Ia memadukan tasawuf tingkat tinggi dengan mitologi lokal seperti Sangkuriang dan Prabu Siliwangi. Dalam karyanya, Qur’anul Adhimi, ia menafsirkan Al-Qur’an dengan rasa Sunda yang kental. Ini adalah bentuk lokalisasi Islam yang jenius, membuat agama tidak terasa asing, melainkan membumi.

“Semoga catatan ini menginspirasi para putra Garut,” pinta Kang Oos. Saya setuju. Hasan Mustapa mengajarkan kita bahwa menjadi cerdas saja tidak cukup. Kita harus punya hati yang luas untuk memaafkan, dan keberanian untuk berbeda demi persatuan.

Di era polarisasi saat ini, kita butuh lebih banyak “Hasan Mustapa”. Tokoh yang tidak takut dipanggil pulang dari zona nyaman demi memadamkan api perpecahan. Ia adalah tokoh pemersatu umat sejati, yang membuktikan bahwa ilmu tanpa adab dan kemampuan mendamaikan hanyalah debu belaka.

Mari belajar dari Garut. Mari belajar dari Hasan Mustapa.

Siapa tokoh pemersatu di daerah Anda? Bagikan ceritanya di kolom komentar.