TEHERAN – Iran secara resmi menolak proposal Oman untuk pengelolaan bersama Selat Hormuz. Teheran menilai rencana tersebut tidak menjawab kekhawatiran keamanan nasionalnya.
Diungkapkan jurnalis Al Jazeera, Resul Serdar, sumber di Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, usulan Muscat yang memasukkan biaya sukarela dinilai hanya bertujuan mencegah Iran menguasai penuh jalur air strategis itu.
Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran, delegasi Oman berada di Teheran pada Jumat dan Sabtu lalu. Kedua pihak menggelar beberapa putaran pembicaraan di tingkat politik dan teknis.
Oman mengajukan skema 50-50: jalur utara di bawah kendali Iran dan jalur selatan di bawah kendali Oman, dilengkapi pembentukan konsorsium regional. Iran menolak keras skema tersebut.
Menurut Serdar, Teheran bersikeras mekanisme pengelolaan Selat Hormuz harus eksklusif hanya melibatkan Iran dan Oman sebagai satu-satunya negara littoral. Iran menuntut kendali penuh atas jalur utara atau jalur masuk, serta kendali sebagian atas jalur selatan.
Konsekuensinya, Iran secara praktis akan menguasai seluruh Selat Hormuz. Pihak Iran menegaskan, bila Oman menolak usulan balasan ini, Selat Hormuz akan tetap ditutup.
Sikap keras Teheran mencerminkan penolakan terhadap segala bentuk pembagian kedaulatan. Iran memandang konsorsium regional hanya akan melemahkan posisi strategisnya. Sementara itu, Oman mencoba menyeimbangkan kepentingan regional melalui model biaya sukarela mirip praktik di selat lain. Namun, hingga kini belum ada indikasi kompromi dari pihak Iran.
Sumber di Teheran menekankan bahwa posisi resmi Iran tidak berubah signifikan. Ancaman penutupan Selat Hormuz disampaikan secara terbuka sebagai konsekuensi logis jika usulan balasan ditolak. Perkembangan ini menambah ketegangan di jalur pelayaran minyak dunia yang sudah terganggu sejak konflik terakhir. Pembicaraan masih berlanjut di tingkat teknis, namun peluang kesepakatan dinilai semakin sempit.








