Edukasi

Dari Tsar hingga Chaplin, Garut Mooi Harus Dihidupkan Lagi

×

Dari Tsar hingga Chaplin, Garut Mooi Harus Dihidupkan Lagi

Sebarkan artikel ini
Tokoh Dunia Banyak yang Berkunjung ke Garut di Era kolonial
Tokoh Dunia Banyak yang Berkunjung ke Garut di Era kolonial

GARUT – Jauh sebelum era kemerdekaan, orang Eropa sudah takjub pada keindahan alam Garut. Mereka menjulukinya Mooi Garoet—bahasa Belanda yang berarti “Garut yang cantik”—dan “Swiss van Java” karena lanskap pegunungan yang mengingatkan pada Alpen.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, topografi Garut yang dikelilingi Gunung Papandayan, Guntur, dan Cikuray membuat kawasan ini menjadi destinasi favorit. Mooi Garoet bukan sekadar pujian, melainkan brand wisata kolonial yang tertulis dalam panduan resmi. Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1917 menyebut Garut sebagai salah satu tempat terindah di Jawa dengan iklim sejuk di ketinggian 700 meter.

Julukan “Swiss van Java” sudah muncul dalam panduan wisata tahun 1917, dipromosikan oleh Vereeniging Toeristenverkeer. Sementara asosiasi Mooi Garoet secara resmi dibentuk tahun 1934 di bawah naungan Bupati Raden Tg. M. Soeria Kartalegawa untuk menarik wisatawan mancanegara.

Tokoh dunia pun berdatangan. Charlie Chaplin, komedian legendaris, tercatat berkunjung ke Garut setidaknya dua kali (sekitar 1932 dan 1936). Ia tiba lewat Stasiun Cibatu, mengunjungi Situ Bagendit dan Cipanas, lalu menginap di Grand Hotel Ngamplang sebelum menuju Gunung Papandayan. Kehadirannya menguatkan citra Mooi Garoet sebagai surga tropis.

Sebelum Chaplin, Tsar Nicholas II dari Rusia (1891), Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria (1893), Raja Chulalongkorn dari Siam, Perdana Menteri Prancis Georges Clemenceau, serta Raja Leopold III dan Putri Astrid dari Belgia juga pernah menikmati pesona Garut. Fotografer Thilly Weissenborn memopulerkan citra visual keindahan ini melalui ribuan foto.

Bagi sebagaian pemerhati sejarah, kedatangan para raja dari berbagai belahan dunia dan selebriti dunia kala itu ke Garut bukan sekedar menikmati keindahan alam. Kunjungan meraka berkaitan dengan kekuatan metafisik yang diyakini dapat melanggengkan kekuasaan dan ketenaran.

Seperti disampaikan Kang Oos Supyadin, pemerhati kesejarahan dan budaya Garut, jika semasa kolonial saja Garut sudah mendapat pengakuan dunia, maka di era merdeka sebutan Mooi Garoet harus dipertahankan, dihidupkan lagi dan ditingkatkan demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah. Warisan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan aset yang wajib kita jaga bersama.