Internasional

Trump Tuduh Iran Perpanjang Perang untuk Ganggu Pemilu Sela AS

×

Trump Tuduh Iran Perpanjang Perang untuk Ganggu Pemilu Sela AS

Sebarkan artikel ini
Presiden AS Donald Trump Tuding Iran Sengaja Perpanjang Perang untuk Ganggu Pemilu Sela AS
Presiden AS Donald Trump Tuding Iran Sengaja Perpanjang Perang untuk Ganggu Pemilu Sela AS

WASHINGTON – Perang Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru yang semakin berisiko setelah pertempuran kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz.

Konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan itu kini tidak hanya melibatkan serangan terhadap sasaran militer, tetapi juga menjalar ke jalur pelayaran dan infrastruktur energi. Eskalasi tersebut kembali mendorong harga minyak dunia menembus level di atas USD100 per barel.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan perang akan berakhir segera setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.

Pernyataan itu disampaikan Trump ketika perang memasuki bulan ketujuh. Ia menilai Iran tidak akan mampu mempertahankan konflik lebih lama karena tekanan ekonomi yang semakin berat.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan belum ada tanda kuat bahwa konflik akan segera berakhir.

Pertempuran Bergeser ke Selat Hormuz

Salah satu titik paling kritis dalam perkembangan terbaru adalah Selat Hormuz.

Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui operasi militer dan penghancuran kapal tanker Iran. Tehran kemudian membalas dengan menyerang kapal-kapal yang berusaha melintasi jalur strategis tersebut.

Reuters melaporkan Iran mengklaim menyerang sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Iran bahkan mengumumkan rencana pembentukan zona larangan pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, beberapa kapal komersial dilaporkan mengalami kebakaran atau kerusakan di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Bagi pasar energi global, perkembangan tersebut sangat penting.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya energi dan memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Iran Serang Pangkalan AS di Yordania

Eskalasi sebelumnya juga menjalar ke wilayah Yordania.

Setelah Amerika Serikat menyerang Pulau Larak di Iran pada akhir Agustus, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan meluncurkan rudal dan drone ke dua pangkalan AS di Yordania, termasuk kawasan Al Azraq yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika.

Yordania menjadi salah satu negara penting dalam strategi militer Amerika Serikat di kawasan karena menampung sejumlah fasilitas militer AS.

Serangan terhadap pangkalan tersebut memperlihatkan bahwa konflik AS-Iran berpotensi semakin melebar ke negara-negara yang menjadi mitra Washington di Timur Tengah.

Laporan terbaru juga menyebut adanya kerusakan pada sejumlah pesawat tempur AS di pangkalan Yordania. Namun, informasi mengenai tingkat kerusakan tersebut masih menjadi bahan perbedaan laporan dan klaim dari berbagai pihak.

Trump Prediksi Perang Berakhir Setelah Pemilu

Di tengah eskalasi tersebut, Trump justru memberikan prediksi optimistis mengenai akhir perang.

Trump mengatakan konflik akan berakhir “segera setelah” pemilu paruh waktu AS pada November.

Menurut Trump, Iran berusaha mempertahankan konflik untuk memengaruhi politik Amerika Serikat menjelang pemilu. Namun, ia menilai Tehran tidak mampu bertahan lebih lama menghadapi tekanan ekonomi dan militer Washington.

Trump juga mengakui kemungkinan terjadinya negosiasi dengan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa diplomasi bukan opsi yang sedang menjadi prioritas pemerintahannya.

Pemilu paruh waktu AS dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026 dan menjadi salah satu momen politik penting bagi pemerintahan Trump.

Washington Belum Menunjukkan Tanda Mengendur

Prediksi Trump tentang berakhirnya perang tidak serta-merta berarti operasi militer akan segera berhenti.

Laporan The Atlantic menyebut pemerintahan Trump justru menyiapkan kemungkinan konflik berkepanjangan, termasuk mempertahankan kehadiran militer yang besar di kawasan Teluk.

Sementara itu, laporan Wall Street Journal menyebut Iran dalam beberapa hari terakhir meningkatkan serangan rudal terhadap kapal perang Amerika Serikat. Sejumlah serangan disebut mendekati sasaran, meskipun kapal-kapal AS berhasil menghindar dan belum mengalami kerusakan yang dikonfirmasi dalam serangan tersebut.

Situasi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara prediksi politik Trump dan dinamika militer di lapangan.

Harga Minyak Berdampak ke Ekonomi Global

Perang AS-Iran tidak hanya menjadi persoalan keamanan Timur Tengah.

Pasar energi global ikut merasakan dampaknya.

Harga Brent kembali menembus USD100 per barel setelah serangkaian serangan terhadap kapal dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Data yang dikutip CBS dari Energy Information Administration memperkirakan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih akan terbatas hingga akhir 2026. EIA memperkirakan sekitar 5,7 juta barel minyak per hari masih berpotensi tertahan akibat gangguan tersebut.

Jika kondisi ini bertahan, dampaknya dapat menjalar ke harga bahan bakar, biaya transportasi, inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi global.

Perang Belum Menunjukkan Jalan Keluar

Pernyataan Trump memberikan satu titik waktu yang jelas: setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November.

Namun, berakhirnya perang tidak hanya bergantung pada kalender politik Washington.

Iran masih memiliki kemampuan melakukan serangan rudal dan mengganggu pelayaran di kawasan strategis. Amerika Serikat juga mempertahankan tekanan militer dan ekonomi terhadap Tehran.

Dengan demikian, prediksi Trump lebih tepat dibaca sebagai target politik dan perkiraan presiden, bukan kepastian bahwa perang akan benar-benar berakhir pada tanggal tersebut.

Selama Selat Hormuz masih terganggu, serangan masih berlangsung, dan kedua pihak belum mencapai kesepakatan, risiko eskalasi tetap terbuka.

Perang AS-Iran kini bukan hanya pertarungan militer dua negara, tetapi juga krisis yang mempertaruhkan stabilitas Timur Tengah dan keamanan energi dunia.