Edukasi

Titik Temu Sejarah Kerjaan Timbanganten

×

Titik Temu Sejarah Kerjaan Timbanganten

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Lokasi Timbanganten di Peta Wilayah Pajajaran
Ilustrasi Lokasi Timbanganten di Peta Wilayah Pajajaran

GARUT – Saya suka sejarah. Tapi bukan tanggal-tanggalnya. Bukan nama-nama rajanya.

Saya suka mengapa sebuah cerita bisa berbeda-beda versinya.

Saya mendapat kiriman tulisan singkat Sejarawan Garut Kang Oos Supyadin, tentang Kerajaan Timbanganten. Kang Oos menyodorkan 2 sumber sejarah  dari Museum Nasional Jakarta. Kode Plt. 37. Kode Plt. 42. Keduanya bicara tentang satu kerajaan yang sama: Timbanganten.

Tapi keduanya bicara dengan bahasa yang berbeda.

Seolah dua saksi mata yang melihat peristiwa sama dari sudut yang berbeda.

Saya tersenyum. Ini bukan kebingungan. Ini justru kekayaan.

Kerajaan yang Tak Pernah Sepi dari Perdebatan

Timbanganten bukan kerajaan kecil. Dalam kajian genealogi Menak Priangan, ia adalah simpul vital. Garis pangkal leluhur keluarga bangsawan Bandung—trah Wiranatakusumah—sebelum mereka memimpin di Tatar Ukur dan Karapyak.

Bayangkan. Sebuah kerajaan di Tarogong dan Korobokan. Yang menjadi mata rantai bagi para bupati Bandung awal.

Tapi di mana buktinya? Di mana prasastinya? Di mana batunya?

Jawabannya tidak selalu berupa batu. Kadang jawabannya ada di lembaran daun lontar. Di kertas saeh yang rapuh. Atau di mulut para kasepuhan yang menyimpan tutur bihari dari generasi ke generasi.

 

Dua Naskah, Dua Cerita

Naskah pertama: Wawacan Babad Timbanganten. Kode Plt. 37.

Ini puisi tradisi wawacan. Narasinya kental dengan kearifan lokal Tarogong. Ada figur legendaris bernama Sunan Burung Baok. Ceritanya mengalir seperti sungai Cimanuk—berkelok, dalam, dan menyimpan banyak rahasia.

Naskah kedua: Silsilah Para Bupati Bandung. Kode Plt. 42.

Ini fragmen cerita tentang Ratu Pasehan atau Dalem Pasehan. Isinya menghubungkan trah penguasa Sunda-Pajajaran ke Timbanganten, hingga menurunkan para bupati Bandung awal. Nadanya lebih politis. Lebih menitikberatkan pada legitimasi.

Bagi orang awam, dua naskah ini mungkin membingungkan. Bagi saya, justru inilah “jarak” yang perlu dijembatani.

Pada Plt. 37, tuturan sejarah lebih kental dengan kronik lokal. Sementara Plt. 42 menitikberatkan pada legitimasi politik trah bangsawan Bandung yang menarik garis luhur ke pusat kekuasaan Pajajaran.

Lalu, di mana titik temunya?

 

Mencari Titik Temu di Bumi Garut

Inilah pertanyaan yang membuat saya dan kawan-kawan sesama pemerhati sejarah terus gelisah.

Keberadaan titik temu itu tidak melulu berada di lemari arsip museum besar di Jakarta atau Belanda.

Di tatar Garut sendiri—daerah yang dikenal kaya akan peninggalan pesantren tua, kasepuhan adat, dan garis keturunan menak masa lalu—sangat terbuka kemungkinan masih ada warga atau keluarga yang merawat naskah daun lontar, piagem kertas saeh, ataupun tradisi lisan mengenai Timbanganten.

Mungkin di sebuah rumah tua di Korobokan.

Mungkin di loteng sebuah pesantren.

Mungkin di tangan seorang kasepuhan yang selama ini diam karena tak pernah ditanya.

Mereka ada. Saya yakin itu. Garut ini tanah yang menyimpan banyak rahasia.

 

Mengapa Ini Penting?

Upaya mempertemukan serpihan sejarah Timbanganten bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu masa lalu.

Ini bagian dari ikhtiar merajut kembali identitas kultural Garut dan Priangan secara utuh.

Kalau kita tidak tahu dari mana kita berasal, bagaimana kita tahu ke mana kita akan pergi?

Dialog terbuka antara para peneliti naskah, akademisi, dan kasepuhan adat di Garut menjadi kunci. Jangan sampai ego sektoral atau klaim sepihak justru menutup pintu bagi terungkapnya sejarah yang lebih utuh.

Penutup: Rahasia yang Menunggu Ditemukan

Saya sering membayangkan: suatu hari nanti, seseorang akan menemukan naskah ketiga. Naskah yang selama ini hilang. Naskah yang bisa menyatukan dua versi tadi.

Atau mungkin, naskah itu tidak akan pernah ditemukan. Mungkin kita hanya perlu duduk bersama, mendengar satu sama lain, dan menerima bahwa sejarah tidak selalu tunggal.

Tapi satu hal yang pasti: Timbanganten bukan sekadar nama. Ia adalah jejak peradaban. Dan jejak itu menunggu untuk dibaca ulang.