BANDUNG — Setiap muslim membaca Al-Fatihah minimal 17 kali sehari. Tapi banyak yang tidak sadar bahwa bacaan itu bukan monolog. Ia dialog. Allah menjawab setiap ayat yang kita ucapkan.
Dalilnya adalah hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta. Apabila hamba mengucapkan: Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Allah berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila mengucapkan: Ar-Rahmanir-Rahim, Allah berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Apabila mengucapkan: Maliki Yaumid-Din, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Apabila mengucapkan: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah berfirman: Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta. Apabila mengucapkan: Ihdinas-siratal mustaqim, siratal-lazina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdubi ‘alaihim wa lad-dallin, Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta.'” (HR. Muslim no. 395)
Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Fatihah adalah percakapan spiritual. Allah tidak diam. Ia merespons setiap kalimat hamba-Nya.
1. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
Saat hamba memuji Allah, Allah menjawab: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Pujian itu bukan sia-sia. Ia didengar.
2. Ar-Rahmanir-Rahim
Saat hamba menyebut sifat kasih sayang Allah, Allah menjawab: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ini pengakuan bahwa rahmat Allah luas.
3. Maliki Yaumid-Din
Saat hamba mengakui Allah sebagai Pemilik Hari Pembalasan, Allah menjawab: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Kesadaran akan hari akhir membuat hati tunduk.
4. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
Inilah puncak dialog. Allah berfirman: Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta. Ayat ini adalah perjanjian: hanya kepada Allah kita menyembah, hanya kepada-Nya kita meminta tolong.
5. Ihdinas-siratal mustaqim
Saat hamba memohon petunjuk, Allah menjawab: Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat apa yang ia minta. Doa ini pasti dikabulkan, karena Allah sendiri yang menjaminnya.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “shalat” dalam hadits ini adalah Al-Fatihah, karena ia adalah inti shalat. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Al-Fatihah disebut Ummul Kitab dan As-Sab’ul Matsani, tujuh ayat yang diulang-ulang.
Maka saat membaca Al-Fatihah, jangan tergesa-gesa. Bacalah dengan tartil. Hayati artinya. Bayangkan Allah menjawab setiap ayat. Inilah rahasia khusyuk yang sering hilang.
Sholat bukan sekadar kewajiban. Ia pertemuan. Dan Al-Fatihah adalah pintunya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: HR. Muslim no. 395; Fathul Bari; Tafsir Ibnu Katsir.




