Ekonomi

Saham Anjlok 70 Persen, Novo Bidik 60 Juta Pasien 2030

×

Saham Anjlok 70 Persen, Novo Bidik 60 Juta Pasien 2030

Sebarkan artikel ini
Logo Novo Nordisk, perusahaan farmasi asal Denmark produsen Ozempic dan Wegovy.
Logo Novo Nordisk, perusahaan farmasi asal Denmark produsen Ozempic dan Wegovy.

KOPENHAGEN – Novo Nordisk tengah menghadapi fase krusial setelah pertumbuhan pesat yang ditopang obat diabetes dan penurun berat badan berbasis semaglutide. Dalam Capital Markets Day pada 21 September 2026, perusahaan asal Denmark itu memaparkan strategi Novo Nordisk 2030 untuk memperluas lini bisnis dan mengurangi ketergantungan terhadap produk yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan. Namun, tantangan terbesarnya bukan soal produksi obat, melainkan bagaimana meyakinkan kembali investor.

Tekanan terhadap Novo meningkat setelah harga sahamnya merosot lebih dari 70 persen dari rekor puncaknya, ketika popularitas Wegovy membawa kapitalisasi pasar melewati US$600 miliar. *Strategi Novo Nordisk 2030* juga harus menghadapi persaingan ketat dari Eli Lilly melalui Zepbound. LSEG memperkirakan penjualan Zepbound tahun ini dapat melampaui Wegovy lebih dari US$7 miliar.

Persoalan terbesar adalah ketergantungan terhadap semaglutide, bahan aktif Ozempic dan Wegovy. Perlindungan patennya di Amerika Serikat berakhir pada 2032, sehingga Novo harus menyiapkan portofolio baru. Manajemen menargetkan melewati masa berakhirnya eksklusivitas tersebut sebagai perusahaan yang lebih besar dan terdiversifikasi. Novo menetapkan ambisi meluncurkan lebih dari lima obat berpotensi miliaran dolar hingga 2030, serta sedikitnya lima program fase III di bidang obesitas dan diabetes.

Terkait izin edar Ozempic dan Wegovy di Indonesia, data BPOM menunjukkan Ozempic terdaftar dengan PT Beta Pharmacon sebagai pendaftar, izin edar terakhir diterbitkan 3 September 2025. Wegovy juga memperoleh izin edar dengan pendaftaran melalui PT Beta Pharmacon, izin awal tercatat 18 Juni 2024. PT Anugrah Argon Medica tercantum sebagai distributor di Indonesia. Artinya, Indonesia termasuk pasar dengan akses resmi terhadap produk tertentu Novo Nordisk.

Novo juga menargetkan kapasitas manufaktur yang dapat melayani 10 kali lebih banyak pasien pengguna GLP-1 oral pada akhir dekade, serta lebih dari 60 juta pasien global pada 2030. Perusahaan membuka ruang pertumbuhan eksternal melalui akuisisi dan kemitraan. Setelah strategi diumumkan, saham Novo justru turun sekitar 9 persen ketika investor mempertanyakan kemampuan menghadapi tekanan harga dan berakhirnya paten.

Strategi Novo Nordisk 2030 menunjukkan bahwa kepercayaan investor adalah komoditas yang tak bisa diproduksi di pabrik. Bagi konsumen Indonesia, izin edar Ozempic dan Wegovy di Indonesia menjadi pengingat penting: pastikan obat diperoleh melalui jalur resmi, karena Novo Nordisk Indonesia memperingatkan peredaran produk ilegal dan palsu, termasuk melalui kanal daring.