Edukasi

Shalat Rawatib: 12 Rakaat Penjaga Istana Surga

×

Shalat Rawatib: 12 Rakaat Penjaga Istana Surga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi seorang muslim menunaikan shalat sunnah rawatib di masjid.
Ilustrasi seorang muslim menunaikan shalat sunnah rawatib di masjid.

BANDUNG — Shalat sunnah rawatib adalah shalat yang dikerjakan mengiringi shalat fardu, baik sebelum (qabliyah) maupun sesudah (ba’diyah). Meski hukumnya sunnah, kedudukannya sangat istimewa. Ia menjadi penyempurna kekurangan shalat wajib sekaligus benteng yang menjaga seorang hamba tetap dekat dengan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

Ayat ini menjadi dalil umum bahwa shalat-shalat tambahan di sekitar waktu fardu memiliki nilai penghapus dosa.

Jumlah Rakaat Rawatib yang Ditekankan

Rasulullah ﷺ menjelaskan secara rinci jumlah rakaat rawatib yang rutin beliau kerjakan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku hafal dari Nabi ﷺ sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Magrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (HR. Bukhari no. 1180, Muslim no. 729)

Sepuluh rakaat inilah yang disebut rawatib muakkadah—yang sangat ditekankan. Namun, ada tambahan empat rakaat sebelum Zuhur, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, sehingga totalnya menjadi dua belas rakaat.

Keutamaan Shalat Rawatib

1. Membangun Rumah di Surga

Inilah keutamaan paling agung. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dalam riwayat lain disebutkan rinciannya:

أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Fajar.” (HR. Tirmidzi no. 415, hasan sahih)

Bayangkan. Dua belas rakaat sehari semalam. Tidak sampai setengah jam totalnya. Tapi balasannya adalah rumah di surga. Rumah yang kekal. Rumah yang tidak akan pernah rusak.

2. Penyempurna Shalat Fardu

Pada hari kiamat, shalat fardu seseorang akan diperiksa. Jika ada kekurangan, maka shalat sunnah akan menutupinya. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ لَمْ تَكْمُلْ فَرِيضَتُهُ، قَالَ اللَّهُ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ يُكْمِلُ بِهِ فَرِيضَتَهُ

“Sesungguhnya amal yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Jika rusak, maka ia gagal dan merugi. Jika shalat fardunya belum sempurna, Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah yang dapat menyempurnakan shalat fardunya?'” (HR. Tirmidzi no. 413, Ibnu Majah no. 1425, sahih)

Inilah rahasianya. Shalat rawatib bukan sekadar amalan tambahan. Ia penambal kekurangan. Penambal kelalaian. Penambal hati yang lalai saat shalat fardu.

3. Dua Rakaat Fajar Lebih Baik dari Dunia

Dari semua rawatib, dua rakaat sebelum Subuh memiliki keutamaan paling menakjubkan:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat (sebelum) Fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim no. 725)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan dua rakaat Fajar:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُحَافَظَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Nabi ﷺ tidak pernah lebih menjaga sesuatu dari shalat sunnah melebihi penjagaannya terhadap dua rakaat sebelum Fajar.” (HR. Bukhari no. 1163, Muslim no. 724)

4. Diampuni Dosa

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa shalat rawatib menjadi sebab ampunan:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا، حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi no. 428, sahih)

Catatan Penting

Para ulama menjelaskan bahwa shalat rawatib yang paling ditekankan adalah:

1. Dua rakaat sebelum Subuh
2. Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua (atau empat) setelahnya
3. Dua rakaat setelah Magrib
4. Dua rakaat setelah Isya

Sedangkan rawatib ghairu muakkadah (tidak terlalu ditekankan) seperti empat rakaat sebelum Ashar dan dua rakaat sebelum Magrib tetap dianjurkan, namun tidak sekuat yang di atas.

Shalat rawatib adalah investasi akhirat yang harganya sangat murah. Dua belas rakaat. Waktu kurang dari setengah jam. Tapi hasilnya: rumah di surga, dosa diampuni, shalat fardu disempurnakan, dan kecintaan Allah diraih.

Jangan tunggu tua. Jangan tunggu lapang. Mulailah dari sekarang. Satu rakaat demi satu rakaat. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah menjaga shalat rawatib.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: QS. Hud: 114; HR. Bukhari no. 1163, 1180; HR. Muslim no. 724, 725, 728, 729; HR. Tirmidzi no. 413, 415, 428; HR. Ibnu Majah no. 1425.