Hukrim

Lapas Perempuan Bandung Kembangkan Puff Tape, Inovasi Baru dari Peuyeum

×

Lapas Perempuan Bandung Kembangkan Puff Tape, Inovasi Baru dari Peuyeum

Sebarkan artikel ini
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung

BANDUNG – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung menghadirkan inovasi kuliner melalui Puff Tape Lamoria, camilan berbahan dasar tape yang dikembangkan menjadi produk oleh-oleh kekinian khas Bandung. Produk tersebut tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

Puff Tape Lamoria lahir dari gagasan untuk mengangkat kembali tape atau peuyeum yang selama ini lekat dengan identitas kuliner Kota Bandung. Kepala Lapas Perempuan Bandung, Rika Aprianti, mengatakan ide tersebut berangkat dari kenangan bahwa peuyeum pernah menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Bandung.

“Dulu kalau ke Bandung orang-orang pasti suka tanya peuyeumnya mana. Walaupun sekarang sudah mulai tergerus zaman, kami ingin membangkitkan kenangan itu lagi melalui Lamoria Puff Tape,” ujar Rika, Selasa (6/10/2026).

Berbeda dari peuyeum yang biasa dijual sebagai oleh-oleh, Puff Tape mengolah tape dengan perpaduan keju dan susu, kemudian dibalut pastry goreng sehingga menghasilkan tekstur renyah di bagian luar dengan isian yang lembut dan lumer. Saat ini, produk tersebut dikembangkan dengan delapan pilihan topping, sehingga memberikan alternatif rasa bagi konsumen.

Di balik inovasi tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan warga binaan. Menurut Rika, pengembangan resep Puff Tape hingga mendapatkan formulasi yang dianggap terbaik membutuhkan waktu sekitar enam tahun. Proses tersebut dilakukan melalui percobaan dan penyempurnaan resep secara bertahap oleh warga binaan yang mengikuti pembinaan tata boga.

Salah satu warga binaan yang terlibat dalam penciptaan Puff Tape, yang disebut dengan nama samaran Mei, mengungkapkan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya terus melakukan eksperimen terhadap resep. Pada tahap awal, isian tape masih menggunakan campuran tepung dan belum memiliki tekstur creamy seperti produk yang dikembangkan saat ini.

Pengembangan produk kuliner tersebut juga menjadi bagian dari upaya Lapas Perempuan Bandung membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat digunakan setelah kembali ke masyarakat. Sebelumnya, Puff Tape Lamoria telah menjadi salah satu produk unggulan dari unit usaha Lamoria Bakery dan dipasarkan melalui berbagai saluran, termasuk marketplace.

Puff Tape tidak lagi hanya mengandalkan penjualan di lingkungan lapas. Pada 2025, produk Lamoria telah dipasarkan melalui Pojok Hasil Karya Warga Binaan di Pasar Baru Trade Center Bandung. Kehadiran di ruang perdagangan tersebut menjadi salah satu upaya memperluas akses pasar bagi produk hasil pembinaan warga binaan.

Sebelumnya, Puff Tape Lamoria juga dilaporkan dijual dalam kemasan berisi lima potong dengan harga Rp20.000. Produk Lamoria lainnya turut dipasarkan secara daring dan mengikuti pameran UMKM sebagai bagian dari pengenalan karya warga binaan kepada masyarakat yang lebih luas.

Kini, Lapas Perempuan Bandung berencana memperkuat pemasaran secara langsung melalui Lamoria Paviliun, yang akan berada di depan area lapas. Selain Puff Tape, paviliun tersebut direncanakan menjual jajanan pasar, bakery, cake, kopi, batik, kerajinan perca, produk rajut hingga fesyen siap pakai hasil pembinaan warga binaan.

Kehadiran Puff Tape Lamoria menunjukkan bahwa program pembinaan di lapas dapat diarahkan tidak hanya pada keterampilan produksi, tetapi juga kewirausahaan dan pemasaran. Bagi warga binaan, setiap produk yang terjual menjadi bagian dari proses membangun keterampilan dan kemandirian sebelum kembali ke tengah masyarakat. Dari sebuah olahan tape, Lapas Perempuan Bandung mencoba menghadirkan oleh-oleh dengan cita rasa lokal sekaligus membawa pesan tentang kesempatan untuk bangkit dan memulai kembali.