JAKARTA — Simbol tiga jari mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul dalam aksi demonstrasi gerakan Indonesia Sadar di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Gestur tangan itu bukan sekadar gaya, melainkan simbol yang membawa pesan solidaritas, kritik sosial, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sejumlah mahasiswa terlihat mengacungkan tiga jari saat menyampaikan aspirasi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Simbol tiga jari juga muncul dalam spanduk dan unggahan media sosial yang berkaitan dengan aksi. Hal ini membuat gestur tersebut semakin menarik perhatian masyarakat luas dan menjadi viral di berbagai platform.
Salah satu pesan yang dikaitkan dengan simbol ini adalah slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”. Pesan tersebut digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai membebani masyarakat, mulai dari kondisi ekonomi hingga kebijakan pemerintah.
Makna tiga jari juga memiliki kaitan dengan budaya populer internasional. Gestur three-finger salute dikenal luas melalui film The Hunger Games sebagai tanda penghormatan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter.
Dalam konteks demonstrasi di Indonesia, penggunaan simbol tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial dan politik yang sedang dikritisi peserta aksi. Tiga jari menjadi sarana untuk menunjukkan kebersamaan sekaligus menyampaikan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap belum menjawab kebutuhan masyarakat.
Gerakan Indonesia Sadar juga membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tuntutan itu mencakup penetapan status bencana nasional untuk karhutla, evaluasi penggunaan anggaran negara, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan sipil dan HAM.
Isu kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu perhatian utama demonstran. Mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional atas karhutla yang berdampak pada sejumlah wilayah, sekaligus meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang dinilai berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Peserta aksi juga menyoroti arah kebijakan ekonomi dan prioritas belanja pemerintah. Mereka meminta agar anggaran negara lebih berpihak pada kebutuhan masyarakat, termasuk pendidikan, layanan dasar, dan lapangan kerja.
Penggunaan simbol tiga jari dalam demonstrasi tersebut turut mengingatkan publik pada gerakan pro-demokrasi di negara lain, termasuk Thailand dan Myanmar. Namun, simbol tersebut tidak memiliki satu makna universal karena pesan yang disampaikan tetap perlu dipahami berdasarkan latar belakang gerakan dan situasi politik ketika simbol itu digunakan.
Viralnya salam tiga jari pada 28 Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana sebuah gestur sederhana dapat menjadi bagian penting dari komunikasi politik dan gerakan sosial. Bagi peserta aksi Indonesia Sadar, simbol tersebut menjadi sarana untuk menyatukan suara dan menyampaikan kritik kepada pemerintah.




