Politik dan Pemerintahan

Dari Songun ke Byungjin, Evolusi Dinasti Kim

×

Dari Songun ke Byungjin, Evolusi Dinasti Kim

Sebarkan artikel ini
kim jpng
Penguasa Korea Utara Kim Jong-un (Baju Hitam) dengan Kim Il-Sung Pendahulu Jong-un

Kepemimpinan Kim Jong-un kerap dipotret dunia dalam satu warna: militeristik dan tertutup. Namun di balik itu, terdapat evolusi strategi kekuasaan yang tak bisa dilepaskan dari warisan dua pendahulunya, Kim Jong-il dan Kim Il-sung.

Hal itu diurai oleh pakar Korea Utara, futurolog sekaligus wartawan senior, Teguh Santosa, dalam sebuah diskusi panjang mengenai arah kepemimpinan Pyongyang dari generasi ke generasi.

Menurut Teguh, memahami Kim Jong-un tak bisa dilepaskan dari konteks sejarah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Ketika blok Timur kolaps, Korea Utara kehilangan penopang ekonomi dan militer utamanya. Situasi ini mengguncang fondasi negara yang selama puluhan tahun bertumpu pada dukungan Moskow.

“Ketika Kim Il-sung wafat tahun 1994, itu terjadi dalam masa yang sangat genting. Ada peluang perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi transisi kepemimpinan membuat arah kebijakan berubah,” ujar Teguh.

Di tangan Kim Jong-il, lahirlah kebijakan yang dikenal sebagai Songun Policy—militer sebagai lokomotif utama negara. Semua sektor, dari ekonomi hingga pembangunan sosial, diarahkan untuk menopang pertahanan. Dunia luar membaca kebijakan ini sebagai sikap defensif sekaligus perlawanan terhadap tekanan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Namun era berubah ketika Kim Jong-un efektif memimpin pada 2012. Teguh melihat adanya pembaruan pendekatan. Jika sang ayah menempatkan militer di atas segalanya, Kim Jong-un mengadopsi strategi paralel yang kerap disebut pengamat sebagai Byungjin Policy.

“Kebijakan ini mempertahankan bahkan meningkatkan kapasitas militer, tetapi pada saat yang sama sektor ekonomi dipacu. Jadi bukan meninggalkan militer, melainkan menambah dimensi baru,” jelasnya.

Perubahan itu, lanjut Teguh, terlihat dari wajah baru Pyongyang. Infrastruktur modern, kawasan hunian baru, hingga pusat hiburan dibangun berdampingan dengan uji coba rudal dan parade militer.

Dalam konteks geopolitik mutakhir, kepemimpinan Kim Jong-un kembali menjadi sorotan setelah kedekatan Korea Utara dengan Rusia menguat. Keterlibatan Pyongyang dalam membantu Moskow di tengah perang melawan Ukraina dinilai sebagai langkah strategis untuk memperoleh timbal balik, terutama dalam transfer teknologi militer.

Teguh menilai langkah tersebut bukan semata-mata manuver ideologis, melainkan kalkulasi realistis atas kepentingan nasional. “Korea Utara selalu bergerak dalam logika survival. Siapa pun pemimpinnya, prioritasnya adalah menjaga eksistensi rezim dan kedaulatan negara,” katanya.

Dari Kim Il-sung yang membangun fondasi ideologi Juche, Kim Jong-il dengan Songun-nya, hingga Kim Jong-un dengan strategi paralel militer-ekonomi, dinasti Kim menunjukkan pola kesinambungan sekaligus adaptasi.

Di tengah ketegangan regional dan rivalitas kekuatan besar, Korea Utara tetap menjadi aktor penting yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dan seperti diingatkan Teguh Santosa, membaca Pyongyang secara hitam-putih hanya akan membuat analisis dunia semakin bias.