Internasional

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran

36
×

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Sebarkan artikel ini
Pimpinan Tertinggi Iran Baru, Mojtaba Khamenei
Pimpinan Tertinggi Iran Baru, Mojtaba Khamenei

TEHERAN – Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi atau imam baru Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Penetapan tersebut diumumkan pada Senin (9/3/2026) setelah dilakukan pemungutan suara oleh Majelis Ahli Iran.

Lembaga yang terdiri dari 88 ulama senior itu memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi ketika posisi tersebut kosong.
Dengan keputusan tersebut, Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran sejak berdirinya negara tersebut setelah Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei.

Dalam sistem politik Iran, posisi pemimpin tertinggi merupakan jabatan paling berpengaruh karena memegang kendali atas militer, kebijakan luar negeri, serta berbagai keputusan strategis negara, termasuk terkait program nuklir.

Hasil pemungutan suara diumumkan Majelis Ahli tepat setelah tengah malam waktu Teheran. Proses pemilihan berlangsung relatif cepat karena para elite politik Iran berupaya menghindari kekosongan kekuasaan di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas.

Selama ini, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur berpengaruh di balik layar pemerintahan ayahnya. Meski jarang tampil di depan publik, ia disebut memiliki hubungan kuat dengan aparat keamanan serta jaringan ekonomi yang berkembang di sekitar lingkaran kekuasaan.

Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dinilai memperkuat posisinya dalam struktur politik Iran.

Bahkan sebelum penunjukan resmi diumumkan, banyak pengamat sudah melihat Mojtaba sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Ali Khamenei.
Namun penunjukan putra Ali Khamenei tersebut juga memicu kontroversi.

Sejumlah kalangan menilai proses suksesi itu berpotensi menimbulkan kesan politik dinasti di Iran.

Isu tersebut menjadi sorotan karena Republik Islam Iran lahir dari Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan sistem monarki di negara tersebut.

Di sisi lain, Mojtaba dikenal memiliki pandangan politik yang keras terhadap Barat dan kerap menentang kelompok reformis yang mendorong hubungan lebih terbuka dengan negara-negara Barat, khususnya terkait isu nuklir Iran.

Karena sikap tersebut, sejumlah pengamat memperkirakan arah kebijakan Iran tidak akan berubah secara drastis di bawah kepemimpinannya.

Kini, dunia menunggu langkah pertama Mojtaba Khamenei dalam memimpin Iran di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks. (Sumber: Youtube Kompas TV)