Internasional

Pentagon Gaspol Bangun Pasukan AI, Kiamat Makin Dekat?

×

Pentagon Gaspol Bangun Pasukan AI, Kiamat Makin Dekat?

Sebarkan artikel ini
Pentagon
Ilustrasi Menteri Perang AS, Hesgeth di Pentagon Kebut Bangun Pasukan AI

WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat mempercepat pembangunan “AI first fighting force” atau kekuatan tempur berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah meningkatnya konflik global.

Langkah itu ditandai dengan kontrak besar antara Pentagon dan sejumlah raksasa teknologi seperti NVIDIA, Oracle, Amazon Web Services, hingga OpenAI.

Namun di balik ambisi modernisasi militer tersebut, kritik keras bermunculan karena AI mulai digunakan dalam operasi perang dan sistem penargetan tempur.

Laporan terbaru menyebut Pentagon menolak pembatasan penggunaan AI yang sebelumnya diminta perusahaan AI Anthropic.

Perselisihan itu bahkan berujung gugatan hukum dan memicu Washington mencari mitra teknologi yang lebih longgar terhadap penggunaan militer.

Dalam kesepakatan terbaru, NVIDIA disebut memberikan keleluasaan jauh lebih besar kepada Pentagon dibanding kontrak AI sebelumnya.

Perusahaan itu dikabarkan sepakat tidak membatasi penggunaan model AI mereka untuk kepentingan pertahanan, termasuk pengembangan sistem senjata otonom.

AI Claude milik Anthropic sendiri saat ini diketahui sudah digunakan dalam sistem MAVEN Smart System, platform digital pendukung operasi penargetan dan medan perang saat konflik Iran berlangsung.

Komando Pusat AS mengakui menggunakan berbagai alat AI guna mempercepat proses pengambilan keputusan militer.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan AI tidak mengambil keputusan mematikan secara mandiri.

“Manusia tetap yang mengambil keputusan,” tegas Hegseth di hadapan Kongres AS.

Meski demikian, kelompok masyarakat sipil dan pegiat HAM menilai penggunaan AI di medan perang tetap berbahaya.

Mereka mengingatkan AI rawan kesalahan, bias otomatisasi, hingga potensi manusia terlalu bergantung pada rekomendasi mesin dalam situasi perang bertekanan tinggi.

Kritik juga mengarah pada minimnya mekanisme pengawasan dalam kontrak-kontrak baru tersebut untuk memastikan perlindungan hak sipil tetap berjalan.

Di sisi lain, pasar menyambut positif proyek militer berbasis AI itu. Saham Oracle melonjak 6,5 persen usai perusahaan mengumumkan kerja sama strategis dengan Pentagon.

Perdebatan soal AI dalam perang kini makin tajam. Pendukung menilai teknologi itu mempercepat efisiensi militer, sementara penentang khawatir dunia sedang membuka jalan menuju perang robot yang berujung kiamat. (Sumber : FRENCH24)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *