Politik dan Pemerintahan

Sumedang Teguhkan Diri sebagai Puseur Budaya Sunda Nasional

×

Sumedang Teguhkan Diri sebagai Puseur Budaya Sunda Nasional

Sebarkan artikel ini
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat Menerima Kunjungan Menbud RI Fadli Zon

Pemerintah Kabupaten Sumedang kian menegaskan posisinya sebagai Puseur Budaya Sunda melalui penguatan regulasi, pelestarian situs sejarah, dan pengembangan kebudayaan berbasis edukasi. Komitmen itu ditegaskan langsung Bupati Sumedang saat mendampingi kunjungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ke kawasan Keraton dan Museum Sumedang Larang, Sabtu (17/1/2026).

Di hadapan Menteri Kebudayaan, Bupati menyampaikan apresiasi sekaligus penghormatan atas perhatian pemerintah pusat terhadap Sumedang. Ia menilai kehadiran Fadli Zon bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sinyal kuat dukungan negara dalam menjaga denyut peradaban Sunda.

Bupati menegaskan, Sumedang telah memiliki fondasi hukum yang kokoh melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2020 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda. Regulasi tersebut, kata dia, lahir dari kesadaran historis bahwa Sumedang Larang merupakan penerus sah Kerajaan Pajajaran.

“Pada abad ke-16, Prabu Siliwangi menyerahkan mahkota birokrasi kepada Kerajaan Sumedang Larang. Itu menandakan Sumedang sebagai penerus Pajajaran. Bukti sejarahnya masih nyata, berupa mahkota emas seberat sekitar delapan kilogram yang tersimpan di Keraton Sumedang Larang,” tegasnya.
Bagi Bupati, merawat kebudayaan bukan sekadar menjaga romantisme masa lalu, melainkan upaya strategis membangun masa depan. Kebudayaan disebutnya sebagai jangkar jati diri sekaligus fondasi peradaban.

“Merawat kebudayaan berarti merawat jati diri. Merawat jati diri berarti merawat peradaban. Dari sanalah masa depan Sumedang dan masa depan bangsa ditentukan,” ujarnya.

Ia mengaitkan penguatan budaya dengan visi pembangunan daerah SIMPATI (Sejahtera, Agamis, Maju, Profesional, dan Kreatif) yang diselaraskan dengan agenda besar Indonesia Emas 2045. Menurutnya, visi pembangunan hanya akan kokoh jika bertumpu pada nilai agama dan budaya.

“Agama menjadi penuntun, budaya membumi dan melahirkan etos kerja, sementara teknologi menjadi alat akselerasi,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap berbagai agenda pelestarian, termasuk gelaran Jabar Etnovest serta pengenalan sembilan jejak budaya Sumedang yang mendapat sambutan luas dari masyarakat.

Kunjungan Menteri Kebudayaan ke sejumlah situs bersejarah seperti Gunung Kunci, Gunung Palasari, makam Gunung Puyuh, hingga Keraton dan Museum Sumedang Larang disebut sebagai momentum strategis. Bahkan, Bupati mengungkapkan Fadli Zon telah menyiapkan konsep revitalisasi kawasan secara proaktif.

“Tanpa kami sampaikan pun, Pak Menteri sudah menyiapkan konsep revitalisasi. Ini bukti perhatian serius pemerintah pusat,” ujarnya.

Revitalisasi, lanjut Bupati, harus menghadirkan narasi, magnet, dan atraksi agar situs budaya menjadi ruang edukasi hidup, bukan sekadar monumen sunyi. Untuk itu, Pemda Sumedang telah menerbitkan edaran agar pelajar melakukan kunjungan edukatif ke situs-situs budaya.

Menutup sambutannya, Bupati menitipkan harapan agar Menteri Kebudayaan mengawal rencana peresmian Sekolah Rakyat di Kecamatan Ujungjaya oleh Presiden RI. Sekolah tersebut ditargetkan rampung Juni mendatang dan diproyeksikan menjadi Sekolah Rakyat pertama di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *