Craig Mokhiber, pengacara hak asasi manusia dan mantan pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memaparkan pandangannya mengenai relasi Epstein dengan tokoh-tokoh politik dan keamanan Israel.
Mokhiber, yang mengabdi lebih dari tiga dekade di PBB dan terakhir menjabat sebagai Direktur Kantor HAM PBB di New York sebelum mundur pada Oktober 2023, menyatakan bahwa sejumlah dokumen dan laporan investigatif menunjukkan Epstein memiliki hubungan yang sangat dekat dengan beberapa figur penting Israel.
“Kita tahu dia setidaknya beroperasi sebagai perantara bagi kepentingan Israel,” ujar Mokhiber dalam wawancara tersebut.
Ia menegaskan bahwa peran Epstein tidak sekadar sebagai pelaku kejahatan seksual yang telah divonis pada 2008, melainkan juga sebagai figur yang membangun jaringan luas di kalangan elite politik dan keamanan internasional. Menurutnya, relasi Epstein dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menjadi salah satu titik sentral.
“Hubungan mereka dekat, intim, dan berlangsung lama. Mereka bertemu puluhan kali, bahkan setelah vonis 2008,” katanya.
Barak diketahui pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Israel periode 1999–2001 serta Menteri Pertahanan pada 2007–2013. Mokhiber menyebut, kedekatan tersebut juga meluas pada kerja sama bisnis, termasuk di sektor teknologi keamanan dan pertahanan.
“Mereka bahkan menjadi mitra dalam startup teknologi keamanan. Epstein membantu berbagai proyek bisnis yang melibatkan kepentingan Israel,” lanjutnya.
Dalam podcast itu, Mokhiber juga menyinggung relasi Epstein dengan sejumlah figur yang memiliki latar belakang intelijen Israel. Ia menyatakan bahwa sejumlah dokumen yang telah dipublikasikan memperlihatkan pola koneksi yang konsisten.
“Apakah dia tercatat resmi sebagai agen Mossad, kita tidak punya bukti formal. Tetapi bukti yang ada menunjukkan ia beroperasi sangat dekat dengan kepentingan tersebut,” ujarnya.
Selain itu, ia menggambarkan Epstein sebagai sosok yang berperan layaknya diplomat tidak resmi, memanfaatkan jaringan globalnya untuk menjembatani kepentingan politik dan bisnis lintas negara.
“Dia bertindak seperti duta tak resmi, menggunakan jaringan yang dibangunnya untuk memfasilitasi komunikasi dan kerja sama antarnegara,” kata Mokhiber.
Meski demikian, hingga kini tidak ada pernyataan resmi dari otoritas Israel maupun lembaga penegak hukum internasional yang menyatakan Epstein sebagai agen intelijen formal. Berbagai tudingan tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan publik dan kajian investigatif media.
Kasus Epstein sendiri terus menyisakan tanda tanya besar sejak kematiannya di tahanan pada 2019. Melalui episode ini, Al Jazeera mencoba menyoroti sisi lain dari jaringan kekuasaan dan pengaruh yang mengitari figur kontroversial tersebut, sekaligus membuka ruang diskusi tentang relasi antara kekuasaan, bisnis, dan geopolitik di Timur Tengah. (Sumber: Al Jazeera)








