DOHA – Konflik geopolitik di Timur Tengah kian menunjukkan pola baru. Saat Amerika Serikat berdarah-darah perangi Iran, Israel justru dengan leluasa mempercepat ekspansi wilayahnya, memanfaatkan situasi global yang semakin terfragmentasi.
Data terbaru menunjukkan, sejak pecahnya konflik besar pada Oktober 2023, korban di Gaza terus bertambah. Hingga April 2026, lebih dari 72 ribu warga Palestina dilaporkan tewas, bahkan dalam periode gencatan senjata pun ratusan korban jiwa masih berjatuhan.
Di saat yang sama, ketegangan di Selat Hormuz berubah menjadi titik tekan baru. Iran kembali memberlakukan kontrol ketat atas jalur energi vital dunia tersebut, sebagai respons atas blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
Situasi ini menciptakan pergeseran medan konflik—dari perang terbuka menjadi konfrontasi terkendali di jalur ekonomi global. Serangan terhadap kapal komersial dan pembatasan lalu lintas laut menjadi instrumen tekanan baru yang berdampak langsung pada pasokan energi dunia.
Namun di luar dinamika AS-Iran, Israel tidak mengendurkan operasi militernya. Serangan udara masih terus dilakukan di Lebanon, bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
Israel juga menetapkan apa yang disebut sebagai “garis kuning” di wilayah Lebanon, sebuah kebijakan yang memberikan legitimasi sepihak untuk melakukan serangan dengan dalih pertahanan diri. Langkah ini menuai kritik keras dari kelompok Hizbullah yang menilai kesepakatan gencatan senjata bersifat timpang.
Di lapangan, dampaknya nyata. Kota-kota di Lebanon selatan seperti Tyre mengalami kerusakan parah, dengan infrastruktur vital—mulai dari jembatan hingga fasilitas kesehatan—menjadi sasaran serangan.
Sementara itu, tekanan terhadap rakyat Palestina tidak hanya terjadi melalui operasi militer. Israel dilaporkan telah menyetujui pembangunan puluhan permukiman baru di Tepi Barat, mempercepat proses aneksasi de facto di wilayah tersebut.
Organisasi HAM mencatat hampir 2.000 serangan oleh tentara dan pemukim Israel terhadap warga Palestina hanya dalam satu bulan terakhir. Akibatnya, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, kehilangan tanah dan tempat tinggal mereka.
Di sisi lain, isu tahanan Palestina kembali mencuat. Sekitar 10.000 warga Palestina, termasuk anak-anak, masih ditahan di penjara Israel, banyak di antaranya tanpa proses hukum melalui skema “administrative detention”.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga melalui kontrol wilayah, tekanan ekonomi, dan sistem penahanan.
Dengan Selat Hormuz sebagai titik panas baru, serta ekspansi Israel yang terus berjalan, peta konflik Timur Tengah kini memasuki fase yang lebih kompleks.
Belum ada tanda-tanda deeskalasi. Yang terlihat justru konsolidasi kekuatan dan strategi jangka panjang dari masing-masing aktor.
Perang belum mencapai titik klimaks. Namun satu hal jelas: medan tempurnya kini meluas—dari daratan Gaza hingga jalur energi paling vital di dunia.








