TEHERAN – Pemerintah Iran akhirnya membeberkan sikap resminya di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, Teheran tidak memiliki ambisi menyerang pihak mana pun, namun tidak akan tinggal diam jika hak negaranya ditekan.
“Kami tidak ingin menyerang siapa pun. Kami hanya menuntut hak kami,” tegasnya dalam pernyataan terbaru.
Menurutnya, pendekatan Barat—terutama Amerika Serikat—dinilai masih sarat tekanan dan upaya pemaksaan kehendak. Iran pun menilai, negosiasi tidak bisa berjalan jika hanya satu pihak yang diminta memenuhi komitmen.
doktrin yang disebut “commitment for commitment”, Iran menegaskan setiap langkah harus dibalas setara. Jika satu pihak melanggar, maka kesepakatan dianggap gugur.
“Jika mereka tidak menjalankan gencatan senjata, maka kami juga tidak akan mengakuinya,” ujarnya.
Salah satu titik panas tetap berada di Selat Hormuz—jalur vital energi dunia. Iran secara terbuka mengakui bahwa penutupan selat tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan terhadap lawan.
Langkah itu diambil sebagai respons atas blokade terhadap pelabuhan Iran, sekaligus menjadi sinyal bahwa Teheran siap menggunakan seluruh instrumen strategisnya, termasuk jalur logistik global.
Tak hanya soal selat, Iran juga menyoroti isu regional lain seperti Hezbollah dan dana negara yang dibekukan. Kedua isu itu disebut sebagai prasyarat sebelum pembahasan lebih lanjut dalam kerangka negosiasi yang lebih luas.
Di bidang nuklir, perbedaan pandangan masih tajam. Iran menegaskan tidak akan mundur dari posisinya, meskipun membuka ruang dialog.
Namun demikian, Teheran tetap mengklaim mengedepankan itikad baik. Tujuan utamanya adalah menciptakan perdamaian jangka panjang yang tidak lagi berulang dalam siklus konflik.
“Iran ingin perdamaian yang memiliki jaminan, bukan sekadar jeda sebelum perang berikutnya,” tegasnya.
Dalam pernyataan yang cukup keras, Iran juga memperingatkan bahwa pihaknya siap menghentikan negosiasi jika tekanan terus berlanjut.
“Jika perang dimulai, maka negosiasi akan dihentikan,” ujarnya.
Di sisi lain, Iran menilai kunci utama deeskalasi ada di tangan Washington. Amerika Serikat diminta mengubah pendekatannya dan mulai membangun kepercayaan dengan rakyat Iran.
Tanpa itu, segala upaya diplomasi disebut hanya akan berujung pada kebuntuan baru.
Dengan situasi di Selat Hormuz yang terus memanas, pernyataan ini mempertegas satu hal: konflik belum mendekati akhir.
Yang terjadi justru sebaliknya—strategi tekanan semakin terbuka, dan risiko konflik yang lebih luas kian nyata.








