TEHERAN – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak. Kurang dari 24 jam setelah dinyatakan dibuka, Iran tiba-tiba kembali menutup jalur vital energi dunia tersebut.
Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai respons atas blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran yang belum dicabut.
Pemerintah Iran menegaskan, mulai saat ini hanya kapal yang mendapat izin dari Garda Revolusi Iran (IRGC) yang boleh melintas. Artinya, kendali penuh atas lalu lintas di selat tersebut kini berada di tangan militer Iran.
Situasi ini langsung menciptakan tekanan besar terhadap ekonomi global. Selat Hormuz merupakan jalur distribusi utama minyak dunia. Setiap gangguan akan berdampak langsung pada pasokan energi dan harga global.
Pernyataan keras datang dari markas militer Khatam al-Anbiya. Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan dan melakukan “perompakan maritim” dengan dalih sanksi.
Akibatnya, Iran memutuskan mengembalikan status Selat Hormuz ke kondisi sebelumnya: dikontrol ketat oleh angkatan bersenjata.
“Selama AS tidak menjamin kebebasan penuh kapal Iran, situasi ini akan tetap seperti sekarang,” tegas pernyataan militer Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap bersikukuh. Blokade tidak akan dicabut sebelum tercapai kesepakatan damai dengan Iran.
Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar paling strategis dalam negosiasi kedua negara.
Sebelumnya, sempat terlihat konvoi kapal tanker keluar dari Teluk melalui Hormuz—pergerakan besar pertama dalam tujuh pekan. Namun harapan pemulihan cepat langsung pupus dengan keputusan terbaru Iran.
Tak hanya soal buka-tutup jalur, Iran juga tengah menyiapkan mekanisme baru, termasuk rencana penerapan tarif bagi kapal yang melintas.
Kombinasi kontrol militer, tarif, dan pembatasan akses menjadikan Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan arena tekanan geopolitik.
Dengan gencatan senjata yang diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari, situasi ke depan masih penuh ketidakpastian.
Satu hal yang pasti: Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur laut, melainkan “senjata” dalam pertarungan Iran dan Amerika Serikat.








