Internasional

Iran Tunjukan Siapa Penguasa Hormuz, Tanker Raksasa Inggris Ditembaki

10
×

Iran Tunjukan Siapa Penguasa Hormuz, Tanker Raksasa Inggris Ditembaki

Sebarkan artikel ini
Tanker Terbakar
Ilustrasi Tanker Raksasa Korban Penembakan Iran

DOHA – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak. Iran tunjukan siapa penguasa de facto Selat Hormuz. IRGC dilaporkan menembaki kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Kantor Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut pasukan Garda Revolusi Iran melepaskan tembakan ke sejumlah tanker yang melintas di perairan tersebut.

Salah satu kapal yang menjadi sasaran disebut membawa sedikitnya dua juta barel minyak asal Irak.

Insiden ini terjadi kurang dari 24 jam setelah Teheran menyatakan Selat Hormuz kembali dibuka. Namun secara tiba-tiba, Iran kembali memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal.

Pemerintah Iran berdalih langkah tersebut diambil karena Amerika Serikat belum mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.

Pihak militer Iran bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah “kendali penuh” dan setiap kapal yang melintas harus mendapat persetujuan otoritas setempat.

“Ini bukan tempat untuk arogansi. Semua pihak harus menghormati Iran,” tegas Ebrqhim Azizi, pejabat Dewan Pertahanan Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak tudingan tersebut dan menyebut langkah Iran sebagai bentuk tekanan politik.

“Ini hanya upaya pemerasan. Kami tidak akan tunduk,” ujar Trump.

Ia juga menegaskan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan yang dinilai menguntungkan Washington.

Situasi ini berdampak langsung pada lalu lintas pelayaran global. Data pergerakan kapal menunjukkan aktivitas tanker sempat meningkat saat selat dibuka, namun kini kembali menurun drastis.

Sejumlah kapal bahkan memilih berbalik arah setelah menerima peringatan dari otoritas Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengangkut hampir sepertiga pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak besar di pasar energi global.

Hingga kini, situasi masih berlangsung dinamis dengan ketidakpastian tinggi, seiring tarik-ulur kepentingan antara Teheran dan Washington yang belum menemukan titik temu.