KARAWANG — Bupati Karawang Aep Syaepuloh menargetkan penurunan angka stunting dari 17 persen menjadi satu digit atau minimal 9 persen dalam waktu secepat mungkin.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Program Bangga Kencana yang digelar di Gedung Singaperbangsa, Kamis (30/4/2026), bersama kepala OPD, camat, dan kepala puskesmas.
Aep menegaskan penanganan stunting harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah hingga tenaga kesehatan di lapangan.
“Kalau kita kerja sama-sama, saya pikir persoalan ini bisa cepat selesai. Tidak hanya camat, puskesmas juga harus terlibat aktif,” ujarnya.
Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Karawang mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,5 miliar per tahun melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Namun, Aep menilai program tersebut perlu diperkuat dengan tambahan asupan protein, khususnya telur.
“PMT sudah banyak, tapi telurnya belum ada. Ini perlu dikolaborasikan karena telur sangat baik untuk perbaikan gizi,” katanya.
Ia memperkirakan kebutuhan telur untuk program tersebut mencapai sekitar 250 kilogram per hari.
Selain itu, Pemkab Karawang juga akan mengoptimalkan program pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Program pusat ini harus dimanfaatkan untuk percepatan penanganan stunting,” tegasnya.
Sebagai bentuk motivasi, Aep menyatakan akan memberikan penghargaan kepada camat dan kepala puskesmas yang berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dalam waktu singkat.
“Kalau biasanya turun enam bulan, ini bisa tiga bulan dengan grafik yang bagus, tentu akan kita beri reward,” pungkasnya.
— Bupati Karawang Aep Syaepuloh menargetkan penurunan angka stunting dari 17 persen menjadi satu digit atau minimal 9 persen dalam waktu secepat mungkin.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Program Bangga Kencana yang digelar di Gedung Singaperbangsa, Kamis (30/4/2026), bersama kepala OPD, camat, dan kepala puskesmas.
Aep menegaskan penanganan stunting harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah hingga tenaga kesehatan di lapangan.
“Kalau kita kerja sama-sama, saya pikir persoalan ini bisa cepat selesai. Tidak hanya camat, puskesmas juga harus terlibat aktif,” ujarnya.
Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Karawang mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,5 miliar per tahun melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Namun, Aep menilai program tersebut perlu diperkuat dengan tambahan asupan protein, khususnya telur.
“PMT sudah banyak, tapi telurnya belum ada. Ini perlu dikolaborasikan karena telur sangat baik untuk perbaikan gizi,” katanya.
Ia memperkirakan kebutuhan telur untuk program tersebut mencapai sekitar 250 kilogram per hari.
Selain itu, Pemkab Karawang juga akan mengoptimalkan program pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Program pusat ini harus dimanfaatkan untuk percepatan penanganan stunting,” tegasnya.
Sebagai bentuk motivasi, Aep menyatakan akan memberikan penghargaan kepada camat dan kepala puskesmas yang berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dalam waktu singkat.
“Kalau biasanya turun enam bulan, ini bisa tiga bulan dengan grafik yang bagus, tentu akan kita beri reward,” pungkasnya.








