Edukasi

Stunting Sudah Dipikirkan Leluhur Sunda Ratusan Tahun Lalu

×

Stunting Sudah Dipikirkan Leluhur Sunda Ratusan Tahun Lalu

Sebarkan artikel ini
Seminar di Unpad
Seminar Nasional yang disponsori LPDP di Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung di Aula Sastra Jepang dengan Tema : ANTI STUNTING DALAM NASKAH SUNDA KUNO.

BANDUNG – Di kampus modern itu, pembicaraan justru melompat jauh ke masa lalu.

Ke abad-abad ketika listrik belum ditemukan. Ketika rumah sakit modern belum berdiri. Ketika orang Sunda menulis pengetahuan hidup di atas daun lontar, kulit kayu, dan kertas buatan tangan.

Sabtu, 24 Mei 2026, di Aula Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Jatinangor, para akademisi, budayawan, dan peneliti berkumpul dalam Seminar Nasional bertajuk “Anti Stunting dalam Naskah Sunda Kuno”. Seminar itu didukung Dana Indonesiana LPDP.

Tema seminar ini terasa unik. Bahkan terdengar “tidak biasa”.

Sebab, stunting selama ini selalu dipahami sebagai isu modern: soal gizi, sanitasi, kemiskinan, hingga intervensi negara. Tetapi forum ilmiah di Unpad itu justru menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: leluhur Nusantara ternyata sudah memikirkan persoalan tumbuh kembang anak jauh sebelum istilah stunting dikenal dunia modern.

Salah satu pembicara yang paling menarik perhatian adalah Anton Charliyan. Mantan Kapolda Jawa Barat yang kini lebih dikenal sebagai Abah Anton itu hadir bukan sebagai polisi, melainkan sebagai budayawan Sunda dan Ketua Umum Majelis Adat Sunda.

Di forum itu ia menyampaikan satu pesan penting: bangsa ini terlalu sering merasa modern, tetapi lupa bahwa leluhurnya pernah sangat maju.

“Program anti stunting ternyata sudah tercatat dalam naskah-naskah peninggalan leluhur kita,” ujar Abah Anton.

Kalimat itu bukan romantisme budaya.

Ia berbasis manuskrip.

Abah Anton menyebut salah satunya Naskah Sunda Kuno Sanghyang Titisjati Pralina. Manuskrip itu memuat panduan rinci tentang perawatan bayi sejak usia kandungan satu bulan hingga lahir dan tumbuh menjadi balita sehat.

Artinya, konsep kesehatan ibu dan anak sudah dikenal dalam peradaban Sunda lama.

Bahkan sangat sistematis.

Ada pola perawatan. Ada aturan makan. Ada pengawasan tumbuh kembang. Ada metode pemulihan kesehatan.

Bukan sekadar mitos.

Yang menarik, seminar itu juga membuka fakta bahwa pengetahuan serupa tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

Dalam naskah Bugis Lagaligo, misalnya, ibu hamil diwajibkan mengonsumsi ikan laut agar anak lahir sehat dan kuat. Di Bali ada Lontar Ushada Taru Pramana yang mencatat khasiat ratusan tanaman obat. Di Jawa terdapat Serat Centini dan naskah Merapi-Merbabu yang membahas jamu, pijat, teknik pernapasan, hingga terapi tubuh.

Nusantara ternyata memiliki tradisi kesehatan yang panjang.

Sangat panjang.

Dan sebagian besar lahir dari pengalaman empiris masyarakat.

Dari alam.

Dari pengamatan turun-temurun.

Dari proses hidup berabad-abad.

Di titik inilah seminar di Unpad itu menjadi penting.

Ia bukan sekadar diskusi budaya.

Tetapi pengingat bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang solusi masa depan justru tersembunyi dalam pengetahuan lama yang terlupakan.

Indonesia hari ini sedang menghadapi masalah stunting yang serius. Negara menggelontorkan anggaran besar. Program dibuat di mana-mana. Tetapi sering kali pendekatannya terlalu administratif dan teknokratis.

Padahal masyarakat Nusantara sejak dulu punya pendekatan berbasis budaya.

Orang Sunda lama mengenal pola makan ibu hamil. Orang Jawa mengenal ramuan herbal. Orang Bugis memahami pentingnya protein laut. Semua diwariskan melalui manuskrip, tradisi lisan, hingga praktik keluarga.

Ini bukan berarti pengobatan modern harus ditinggalkan.

Tidak.

Tetapi ilmu modern dan pengetahuan leluhur semestinya dipertemukan.

Disinergikan.

Karena bangsa besar bukan bangsa yang malu pada warisan intelektualnya.

Abah Anton juga menyinggung soal metode pengobatan masa lalu: mulai dari ramuan herbal, pijat tradisional, hingga pendekatan spiritual melalui doa dan mantra.

Di zaman sekarang, sebagian memang terdengar mistis. Tetapi pada masanya, metode itu dijalankan oleh orang-orang yang memiliki disiplin ilmu dan laku spiritual yang ketat: resi, pandita, ahli suluk, hingga brahmana.

Mereka bukan sekadar “dukun” seperti stigma hari ini.

Mereka penjaga pengetahuan.

Peradaban modern sering terlalu cepat menertawakan masa lalu.

Padahal Jepang maju tanpa membuang tradisinya. China membangun teknologi modern sambil menghidupkan pengobatan tradisionalnya. India menjadikan Ayurveda sebagai bagian diplomasi budaya dunia.

Lalu Indonesia?

Sering kali justru sibuk melupakan manuskripnya sendiri.

Padahal di dalam lembar-lembar tua itu tersimpan pengetahuan tentang pangan, kesehatan, pertanian, lingkungan, hingga tata hidup manusia.

Naskah-naskah seperti Sanghyang Titisjati Pralina, Lagaligo, Serat Centini, atau Pustaka Laklak bukan sekadar benda museum.

Mereka adalah memori intelektual bangsa.

Dan mungkin juga peta jalan masa depan.

Karena itu, seminar di Fakultas Ilmu Budaya Unpad tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai acara akademik tahunan. Ia harus menjadi awal kesadaran baru: bahwa leluhur Sunda dan Nusantara ternyata telah mewariskan ilmu kehidupan yang relevan hingga hari ini.

Termasuk tentang cara mencegah stunting.

Tentang pentingnya ibu sehat.

Tentang anak yang tumbuh kuat.

Dan tentang manusia yang hidup selaras dengan alamnya.