Edukasi

Sunan Gunung Djati, Nama yang Terlalu Besar untuk Sekadar Papan Nama

×

Sunan Gunung Djati, Nama yang Terlalu Besar untuk Sekadar Papan Nama

Sebarkan artikel ini
Gerbang UIN Sunan Gunung Djati
Gerbang UIN Sunan Gunung Djati

JUTAAN orang pernah membacanya gerbang kampus itu.

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Nama itu terpampang besar. Tegak. Kokoh. Menjadi identitas sebuah perguruan tinggi Islam terbesar di Jawa Barat.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:

Apakah Sunan Gunung Djati hanya sebuah nama?

Ataukah ia sesungguhnya sebuah pesan yang belum selesai dibaca?

William Shakespeare pernah menulis kalimat yang begitu terkenal: What’s in a name?

Apalah arti sebuah nama.

Kalimat itu indah. Romantis. Cocok untuk kisah cinta Romeo dan Juliet.

Tetapi dalam kehidupan nyata, terutama dalam sejarah peradaban, nama justru sering kali menentukan arah.

Nama adalah doa.

Nama adalah harapan.

Nama adalah kompas.

Karena itulah para pendiri UIN Bandung tidak memilih nama secara sembarangan.

Mereka tidak menamai kampus itu berdasarkan lokasi geografis. Tidak pula menggunakan nama administratif yang netral dan dingin.

Mereka memilih satu nama yang sarat makna:

Sunan Gunung Djati.

Pilihan itu tentu bukan kebetulan.

Dalam ilmu semiotika, setiap nama adalah tanda.

Ferdinand de Saussure menyebutnya sebagai signifier atau penanda.

Ketika seseorang mendengar kata “bunga”, yang muncul bukan sekadar rangkaian huruf. Yang hadir adalah bayangan keindahan, warna, dan aroma.

Begitu pula ketika orang menyebut Sunan Gunung Djati.

Yang muncul bukan sekadar sosok seorang wali.

Yang hadir adalah sejarah.

Adalah ilmu.

Adalah dakwah.

Adalah keberanian.

Adalah peradaban.

Dan di situlah letak kekuatan sebuah nama.

Ia tidak berhenti pada bunyi.

Ia hidup dalam makna.

Sunan Gunung Djati adalah tokoh yang unik.

Ia seorang ulama.

Tetapi juga negarawan.

Ia seorang pendakwah.

Tetapi juga pemimpin sosial.

Ia seorang guru.

Tetapi sekaligus pejuang.

Dalam sejarah Nusantara, jarang ditemukan figur yang mampu menggabungkan seluruh peran itu secara bersamaan.

Dari Cirebon, pengaruhnya menjalar ke seluruh tanah Pasundan.

Ia membangun jaringan keilmuan.

Menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya.

Mengajarkan agama tanpa memusuhi tradisi.

Mendakwahkan keyakinan tanpa menciptakan permusuhan.

Sebuah metode yang terasa sangat relevan hingga hari ini.

Di tengah dunia yang semakin gaduh.

Di tengah masyarakat yang semakin mudah terpecah.

Sunan Gunung Djati tidak berdakwah dengan kemarahan.

Ia memilih hikmah.

Ia tidak membangun tembok.

Ia membangun jembatan.

Ia tidak mengubah masyarakat dengan paksaan.

Ia mengubah mereka dengan keteladanan.

Barangkali itulah warisan terbesar yang ditinggalkannya.

Bahwa perubahan paling kuat lahir dari akhlak, bukan dari kekuasaan.

Dari keteladanan, bukan dari ancaman.

Tetapi Sunan Gunung Djati bukan hanya soal agama.

Ia juga bagian penting dari sejarah kebangsaan.

Ketika Portugis berusaha memperluas pengaruhnya di Sunda Kelapa, nama Sunan Gunung Djati hadir dalam babak penting perlawanan.

Bersama Fatahillah dan Kesultanan Demak, ia ikut membangun fondasi perlawanan terhadap kolonialisme.

Karena itu, jika hari ini kita menyebut Sunan Gunung Djati hanya sebagai tokoh agama, sesungguhnya kita sedang memperkecil sosoknya.

Ia adalah simbol keilmuan sekaligus simbol kebangsaan.

Ulama sekaligus negarawan.

Guru sekaligus pejuang.

Pertanyaan berikutnya menjadi menarik.

Apakah seluruh makna itu sudah benar-benar hidup di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung?

Atau jangan-jangan nama besar itu baru berhenti di papan nama kampus?

Pertanyaan ini penting.

Sebab sebuah institusi pendidikan tidak cukup hanya memiliki identitas.

Ia harus mewarisi ruh dari identitas tersebut.

Jika Sunan Gunung Djati identik dengan ilmu, maka kampus harus menjadi rumah bagi tradisi keilmuan yang kuat.

Jika Sunan Gunung Djati identik dengan dakwah yang santun, maka kampus harus menjadi teladan moderasi dan toleransi.

Jika Sunan Gunung Djati identik dengan keberanian membangun peradaban, maka kampus harus melahirkan generasi yang berani menjawab tantangan zaman.

Nama besar akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan.

Mungkin di sinilah pentingnya kembali membaca Sunan Gunung Djati.

Bukan sebagai tokoh masa lalu.

Bukan pula sekadar nama institusi.

Melainkan sebagai sumber inspirasi.

Sebagai nilai.

Sebagai arah perjalanan.

Karena sesungguhnya nama itu terlalu besar untuk sekadar dicetak di kop surat, ditulis di ijazah, atau dipasang di gerbang kampus.

Nama itu membawa amanat.

Nama itu membawa tanggung jawab.

Nama itu membawa sejarah panjang yang menuntut untuk diteruskan.

Dan mungkin benar, bagi sebagian orang nama hanyalah nama.

Tetapi bagi mereka yang memahami sejarah, sebuah nama bisa menjadi peradaban.

Sunan Gunung Djati adalah salah satunya.

Satu nama.

Dengan sejuta makna.

Dan makna itu masih menunggu untuk terus dihidupkan.