Internasional

Tutup Lagi Selat Hormuz, Iran Uji Nyali Donald Trump

×

Tutup Lagi Selat Hormuz, Iran Uji Nyali Donald Trump

Sebarkan artikel ini
Hormuz
Iran tutup lagi Selat Hormuz usai serangan Israel ke Lebanon. Jalur 20% energi dunia lumpuh, harga BBM melonjak. Trump kejar solusi jelang pemilu AS.

ABU DHABI – Angkatan bersenjata Iran kembali tutup Selat Hormuz usai serangan Israel ke Lebanon. Padahal baru sepekan disepakati dibuka dengan AS. Jalur vital itu mencekik seperlima energi dunia.

Selat Hormuz yang hanya selebar 33 km di titik tersempit jadi senjata non-militer Teheran. Sebelum perang, 130 kapal melintas tiap hari. Kini anjlok jadi 6 kapal saat konflik AS-Israel-Iran memanas.

Penutupan memicu krisis energi global bersejarah. Harga BBM, pupuk, hingga helium untuk obat dan teknologi melonjak. Bagi Presiden AS Donald Trump, pembukaan selat krusial redam amarah pemilih jelang pemilu sela November.

Iran tutup Hormuz dengan argumen Israel telah melanggar gencatan senjata di Lebanon. “Komitmen harus dibalas komitmen. Jika pihak lain ingkar, Iran pasti ambil langkah balasan,” tegas salah satu diplomat Teheran.

Lalu lintas sempat pulih usai MoU AS-Iran. Tanggal 18 Juni tercatat 25 kapal melintas. Namun masih jauh dari normal. Lebih 500 kapal terjebak. Trump akui dunia 4 minggu lagi hadapi krisis energi jika selat tak dibuka.

Professor of Government, Georgetown University Qatar, Mehran Kamravan nilai Iran mainkan kartu truf. Teheran uji batas kekuatan lewat Selat Hormuz yang kuasai 20% pasokan energi global. “Tujuannya mengalihkan fokus AS dari isu nuklir ke pembukaan selat,” ujar Kamravan.

Dia mengingatkan Iran agar tidak berlebihan menjadikan Hormuz sebagai alat tawar militer terhadapa pemimpin Amerika Serikat dan sekutunya. Merubah kontrol Hormuz dari deterrent jadi alat pemerasan berisiko jadi negara pariah.

Kamravan meyakini, Teheran sadar harus menjaga hubungan dengan Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar.

“Iran kini mengincar kontrol administratif, bukan militer, atas Selat Hormuz. Agar bisa memberi pembatasan birokratis jika perlu. Nasib ekonomi dunia kini di ujung tanduk selat sempit itu,” tandasnya. (Sumber : AlJazeera)