JENEWA — Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan putaran pertama negosiasi AS-Iran di Swiss telah meletakkan fondasi yang kuat menuju kesepakatan final untuk mengakhiri perang Iran. Namun pakar strategi Iran dari Atlantic Council, Nate Swanson, mengingatkan bahwa Nota Kesepahaman (MOU) yang menjadi landasan negosiasi AS-Iran masih dipenuhi celah berbahaya yang belum ada jalan keluarnya.
Vance mengumumkan pencapaian penting: Iran setuju mengundang kembali inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) — yang ia sebut sebagai tonggak bersejarah menuju denuklirisasi permanen Iran dalam kerangka negosiasi AS-Iran.
“Kami meletakkan fondasi yang sangat baik. Fondasi sudah ada, tapi rumahnya belum dibangun,” ujar Vance.
Namun Swanson yang pernah menjabat Direktur Iran di Dewan Keamanan Nasional era Biden sekaligus terlibat dalam tim negosiasi Iran era Trump pertama, menilai kekuatan terbesar MOU hanyalah mengakhiri perang — selebihnya penuh kelemahan struktural.
Menurut Swanson, MOU tidak menyediakan peta jalan yang jelas untuk tiga isu krusial: pertama, pembukaan Selat Hormuz secara bebas tanpa biaya atau retribusi; kedua, kesepakatan nuklir yang benar-benar bermakna dan dapat dicapai sekaligus; ketiga, pengelolaan gencatan senjata Lebanon yang sangat volatil dan berada di luar kendali baik AS maupun Iran.
Soal Selat Hormuz, Swanson menegaskan situasi saat ini tidak berkelanjutan. Sehari sebelum perang pecah pada 27 Februari, kapal-kapal melintas bebas tanpa batasan. Kini Iran ingin menerapkan kontrol koordinasi atas lalu lintas di selat sekaligus memonetisasinya melalui retribusi — sebuah pendekatan yang merugikan AS, Eropa, negara-negara Asia konsumen energi Timur Tengah, dan negara-negara Teluk.
“Ini tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang oleh semua pihak, tapi tidak ada jalan keluar yang jelas bagi siapapun saat ini,” tegas Swanson.
Negosiasi lanjutan masih berlangsung di Swiss. Dunia menunggu apakah fondasi yang diklaim Vance cukup kuat untuk menopang bangunan perdamaian yang sesungguhnya.








