BANDUNG – Pemkab Bandung siap percepat pembangunan SMA Negeri baru di Pangalengan. Bupati Dadang Supriatna alias KDS siapkan lahan 6.000 meter persegi melalui APBD Perubahan 2026.
Pemkab Bandung terima aspirasi Camat Pangalengan, Kades Pulosari, BPD, dan tokoh masyarakat di Rumah Dinas Bupati, Selasa (7/7/2026). Rapat membahas solusi tanah untuk SMA Negeri 2 Pangalengan.
Pemkab Bandung awalnya mengusulkan tanah carik Desa Pulosari. Namun survei 2025 terkendala Permendagri Nomor 3 Tahun 2024 yang hanya mengatur tukar guling atau penjualan aset.
Pemkab Bandung kini siapkan opsi lahan baru. “Saya siap menganggarkan pengadaan lahan 6.000 meter persegi melalui APBD Perubahan 2026,” tegas KDS.
Bupati meminta DPMD konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa. Koordinasi juga dilakukan dengan Disdik Jabar dan Disdik Kabupaten Bandung terkait mekanisme hibah tanah carik.
Jika hibah memungkinkan, pembangunan dilanjutkan. Jika tidak, lahan baru dari APBD Perubahan jadi jalan keluar.
KDS berharap Disdik Jabar membuka PPDB 2026-2027. Targetnya gedung baru selesai 2027 dan kegiatan belajar langsung pindah.
Kebutuhan SMA baru mendesak karena jumlah lulusan SMP. Setiap tahun ada sekitar 2.000 lulusan SMP di Pangalengan. Kapasitas SMA dan SMK negeri hanya 900 siswa.
Akibatnya sekitar 1.000 lulusan terancam tidak lanjut ke SLTA. Kondisi itu dinilai berisiko memicu pernikahan dini dan kasus stunting baru.
“Kalau seribu anak tidak lanjut SMA, ini ancaman serius. Sekarang cari solusi terbaik untuk anak-anak kita,” kata KDS.
Camat Pangalengan Vena Andriawan menyebut usulan ini tindak lanjut Rembug Bedas 2024. Alternatif lahan BBI milik Pemprov juga belum terealisasi.
Masyarakat Desa Pulosari siap serahkan tanah carik jika regulasi memungkinkan.
Vena menyebut Pangalengan masih hadapi kemiskinan dan stunting. Prevalensi stunting turun dari 29 persen pada 2024 menjadi 14 persen. Namun risiko kasus baru masih besar akibat pernikahan dini.
“Keterbatasan akses pendidikan jadi penyebab utama. Dengan satu SMA dan satu SMK Negeri, ribuan lulusan tidak tertampung,” ujar Vena.
Kehadiran SMA baru diharapkan memperluas akses pendidikan. Sekolah baru juga jadi upaya memutus rantai kemiskinan, menekan pernikahan dini, dan mencegah stunting di Pangalengan.








