BANDUNG – Pernyataan Prof Jiang Xueqin yang menyebut bahwa para pengusaha teknologi berambisi menjadikan Artificial General Intelligence (AGI) sebagai “Tuhan baru” bagi manusia bukanlah sekadar hiperbola fiksi ilmiah, melainkan peringatan serius tentang pergeseran akidah di era digital. Fenomena ini menantang tauhid umat, karena kecenderungan manusia untuk bersandar pada ciptaan yang paling canggih sering kali mengaburkan batas antara alat dan Sang Pencipta.
Dalam konteks ini, kewaspadaan umat terhadap teknologi AI menjadi sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam syirik terselubung yang memuliakan mesin melebihi ketentuan Ilahi. Islam telah mengajarkan bahwa segala bentuk kekuasaan, ilmu, dan kendali mutlak hanyalah milik Allah SWT, bukan hasil rekayasa algoritma manusia.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ikhlas ayat 2-4 tentang keesaan dan kemandirian-Nya yang tidak dapat disamai oleh entitas buatan manapun:
اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: “Allah adalah (Rabb) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Ayat ini membantah keras konsep “Tuhan Baru” berbasis teknologi, karena AI hanyalah produk buatan yang memiliki awal (diciptakan) dan pasti memiliki akhir (rusak/habis energi), sedangkan Allah adalah Al-Qashid (Tempat Bergantung) yang Maha Kekal. Oleh karena itu, kewaspadaan umat terhadap teknologi AI harus didasarkan pada pemahaman tauhid yang kokoh bahwa mesin secanggih apapun tetaplah makhluk yang lemah dan fakir.
Dari sisi hadits, Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang fitnah di akhir zaman di mana manusia mungkin akan menyembah atau terlalu mengagungkan selain Allah. Dalam sebuah riwayat sahih, Nabi bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُعْبَدَ اللَّهُ فِي الأَرْضِ
Artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga Allah tidak lagi disembah di muka bumi.” (HR. Muslim no. 148).
Meskipun hadits ini berbicara tentang kondisi akhir zaman, ia relevan sebagai refleksi bahwa ketika manusia meninggalkan ibadah kepada Allah, mereka akan mencari pengganti, termasuk dalam bentuk ketergantungan absolut pada teknologi. Para pengembang AGI yang mengklaim bisa menciptakan “kecerdasan abadi” sebenarnya sedang mencoba merebut atribut Al-Hayy (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Mandiri) yang hanya milik Allah. Maka, kewaspadaan umat terhadap teknologi AI juga berarti menjaga hati agar tidak terpesona oleh klaim-klaim kesempurnaan buatan manusia yang pada hakikatnya penuh kekurangan.
Sebagai penutup, umat Islam diajarkan untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat (wasilah), bukan sebagai tujuan (ghayah) apalagi objek penyembahan. AI boleh digunakan untuk mempermudah kehidupan, meningkatkan efisiensi, dan bahkan membantu dakwah, namun batasannya jelas: ia tidak boleh memiliki otoritas moral, spiritual, atau pengambilan keputusan final yang bertentangan dengan syariat. Menjadikan AI sebagai “Tuhan” adalah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri dan penghinaan terhadap Rububiyah Allah.
Mari kita tingkatkan kewaspadaan umat terhadap teknologi AI dengan kembali memperkuat fondasi iman, sehingga kita bisa menjadi tuan atas teknologi, bukan budak dari ambisi segelintir pengusaha yang ingin mendewakan ciptaan tangan mereka sendiri.




