Edukasi

Dari Nongkrong ke Running Club, Olahraga Makin Jadi Gaya Hidup Gen Z Indonesia

×

Dari Nongkrong ke Running Club, Olahraga Makin Jadi Gaya Hidup Gen Z Indonesia

Sebarkan artikel ini
Generasi Z mengikuti kegiatan running club sebagai bagian dari tren olahraga dan gaya hidup sehat di Indonesia.
Aktivitas running club menjadi salah satu tren gaya hidup Gen Z Indonesia pada 2026, menggabungkan olahraga, kesehatan, dan interaksi sosial.

JAKARTA — Generasi Z di Indonesia mulai menunjukkan perubahan dalam memanfaatkan waktu luang dan membangun pergaulan. Jika beberapa tahun lalu aktivitas anak muda identik dengan nongkrong, hiburan, gim, dan ruang digital, olahraga kini semakin masuk ke dalam rutinitas sosial.

Lari, gym, bersepeda, bulu tangkis hingga hiking bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran. Pada 2026, kegiatan tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup sebagian anak muda.

Perubahan ini memiliki basis demografis yang besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun mencapai 64,22 juta jiwa pada 2024 atau sekitar 22,99 persen dari total penduduk.

Besarnya kelompok usia muda tersebut membuat perubahan perilaku Gen Z berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari industri olahraga, makanan dan minuman, hiburan hingga pola konsumsi masyarakat.

Dengan jumlah puluhan juta orang, pilihan gaya hidup generasi muda tidak lagi sekadar menjadi tren di media sosial. Jika berlangsung konsisten, perubahan tersebut dapat berkembang menjadi fenomena sosial sekaligus ekonomi.

Lari dan Jalan Kaki Makin Populer

Minat terhadap aktivitas fisik juga tergambar dalam survei Jakpat pada 2024. Survei yang melibatkan 4.477 responden Gen Z dan milenial menunjukkan 54 persen responden memilih berjalan kaki sebagai aktivitas olahraga.

Sementara itu, sekitar tiga dari 10 responden menjadikan lari sebagai aktivitas olahraga harian.

Data tersebut menunjukkan olahraga tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki dan berlari justru relatif mudah dilakukan dan dapat dipadukan dengan aktivitas sosial.

Fenomena running club menjadi salah satu contoh bagaimana olahraga berubah menjadi ruang pergaulan baru. Anak muda tidak hanya datang untuk berlari, tetapi juga bertemu teman, membangun jaringan, membuat konten, hingga mengikuti berbagai event olahraga.

Dari Ruang Digital ke Ruang Publik

Perubahan tersebut terasa semakin kuat jika dibandingkan dengan sekitar 2021 ketika pandemi COVID-19 masih membatasi mobilitas dan interaksi sosial.

Saat itu, banyak aktivitas anak muda berlangsung dari rumah dengan mengandalkan perangkat digital untuk belajar, bekerja, bermain, dan berkomunikasi.

Memasuki 2026, ruang publik kembali menjadi tempat interaksi. Run club, pusat kebugaran, komunitas sepeda, lapangan olahraga, hingga berbagai event menjadi ruang baru bagi anak muda untuk bersosialisasi.

Menariknya, pola interaksi tersebut tidak sepenuhnya meninggalkan karakter digital Gen Z.

Aktivitas olahraga justru dibawa ke media sosial. Catatan jarak lari, jumlah langkah, pencapaian personal, transformasi tubuh hingga dokumentasi mengikuti perlombaan menjadi bagian dari konten sehari-hari.

Teknologi wearable dan aplikasi kebugaran semakin memperkuat fenomena tersebut karena aktivitas fisik dapat dipantau dan dibagikan secara terukur.

Jika sebelumnya pencapaian sosial bisa ditunjukkan melalui tempat nongkrong yang dikunjungi, kini sebagian anak muda juga menunjukkan pencapaian melalui jarak lari, personal best, jumlah langkah atau keberhasilan menyelesaikan perlombaan.

Gaya Hidup Sehat Jadi Lebih Luas

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari meningkatnya aktivitas olahraga. Perhatian Gen Z terhadap kesehatan juga mencakup kebiasaan sehari-hari.

Survei Jakpat terhadap responden Gen Z yang menjadi bagian dari total 4.477 responden menunjukkan 42 persen menjadikan upaya menghindari stres sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Selain itu, 41 persen responden memilih tidak merokok atau mengurangi konsumsi rokok.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsep hidup sehat di kalangan anak muda semakin luas. Olahraga berjalan bersamaan dengan upaya menjaga kesehatan mental dan mengurangi kebiasaan yang dianggap berisiko bagi kesehatan.

Bukan Berarti Gen Z Sepenuhnya Tinggalkan Alkohol

Perubahan gaya hidup tersebut juga perlu dilihat secara proporsional. Meningkatnya popularitas olahraga tidak otomatis berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan konsumsi alkohol.

Data IWSR justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Partisipasi konsumsi alkohol Gen Z usia legal di 15 pasar utama meningkat dari 66 persen pada 2023 menjadi sekitar 73–74 persen pada 2025.

Namun, pola konsumsinya menjadi lebih selektif. Riset IWSR pada September 2025 menunjukkan rata-rata jumlah kategori minuman alkohol yang dikonsumsi Gen Z dalam satu kesempatan turun dari 2,8 menjadi 1,8 kategori dalam dua tahun.

Artinya, perubahan yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai pergeseran pola konsumsi, bukan penghapusan alkohol dari kehidupan Gen Z.

Di tengah perubahan tersebut, olahraga menawarkan alternatif aktivitas sosial yang lebih konstruktif. Bertemu teman tidak selalu harus berlangsung di tempat hiburan malam atau berpusat pada konsumsi minuman beralkohol.

Anak muda dapat membangun interaksi melalui latihan bersama, fun run, bulu tangkis, bersepeda, hiking, atau sekadar berjalan kaki.

Olahraga akhirnya tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga menjadi medium membangun pertemanan dan komunitas.

Peluang Ekonomi Baru

Perubahan gaya hidup ini juga membuka peluang ekonomi.

Ketika olahraga semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kebutuhan terhadap sepatu dan pakaian olahraga, jam pintar, pusat kebugaran, jasa pelatih, penyelenggara event, hingga komunitas olahraga ikut berkembang.

Waktu dan pengeluaran yang sebelumnya dialokasikan untuk hiburan konvensional sebagian dapat bergeser ke aktivitas yang dianggap memberikan manfaat kesehatan sekaligus pengalaman sosial.

Bagi industri olahraga, Gen Z menjadi pasar yang menarik karena mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga pengalaman, komunitas, pencapaian, dan identitas yang melekat pada aktivitas tersebut.

Pada akhirnya, perubahan gaya hidup Gen Z Indonesia pada 2026 tidak dapat disederhanakan menjadi cerita bahwa generasi muda meninggalkan nongkrong atau minuman beralkohol.

Data menunjukkan perilaku yang beragam. Namun, semakin populernya olahraga memberikan sinyal positif bahwa pilihan gaya hidup sehat semakin memiliki tempat dalam kehidupan anak muda.

Running club dan komunitas olahraga pada akhirnya bukan hanya soal berlari. Di sana terjadi perubahan cara generasi muda membangun pertemanan, menjaga kesehatan, mengekspresikan diri, dan menghabiskan waktu.

Kebiasaan yang dibangun generasi ini pada akhirnya turut menentukan kualitas masyarakat Indonesia pada masa mendatang.(Elfi)