GARUT – Rumah bukan sekadar empat dinding dan atap. Bagi keluarga, rumah adalah tempat memulai banyak hal: membesarkan anak, beristirahat, sekaligus menabung harapan.
Karena itu, ketika harga rumah terasa semakin jauh dari kemampuan sebagian masyarakat, kabar tentang rumah subsidi menjadi penting.
Pemerintah Kabupaten Garut ikut membuka jalan.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Dedy Mulyadi, mengatakan pemerintah daerah memberikan pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang membeli rumah bersubsidi.
“Jadi dipersilakan kepada masyarakat yang membutuhkan rumah bersubsidi, BPHTB-nya dibebaskan,” ujar Dedy saat membuka Pameran Rumah Impian (PRI) Vol. IV di Atrium Citimall Garut, Kecamatan Karangpawitan, Rabu (26/8/2026).
Ini tentu bukan sekadar soal pameran rumah.
Di baliknya ada persoalan klasik: masyarakat membutuhkan rumah, pengembang membutuhkan kepastian pasar, sementara kemampuan membeli rumah tidak selalu secepat kenaikan harga tanah dan bangunan.
Karena itu, Dedy mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang tersedia melalui Kredit Program Perumahan (KPP) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Bunga cicilan yang relatif rendah diharapkan membuat rumah semakin mungkin dijangkau masyarakat.
“Hunian yang baik tentu kita harapkan berpengaruh positif terhadap kehidupan sosial, kesehatan, serta kesejahteraan keluarga,” katanya.
Pameran Rumah Impian Vol. IV berlangsung selama lima hari, 26-30 Agustus 2026.
Ketua penyelenggara, Agus Ismail, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional pembangunan 3 juta rumah.
Ada 14 pengembang perumahan komersial dan subsidi yang ikut ambil bagian.
Ketua APERSI Kabupaten Garut, Najiman, mengatakan pengembang memiliki peran penting dalam membantu pemerintah menyediakan rumah layak bagi masyarakat.
Namun ada satu pesan yang tidak kalah penting: jangan hanya mengejar jumlah rumah.
Kualitas juga harus dijaga.
“Kami berharap teman-teman pengembang tetap berkomitmen menjaga kualitas rumah serta menjaga kepercayaan konsumen,” ujar Najiman.
Di sinilah pameran rumah menjadi lebih dari sekadar tempat melihat contoh bangunan.
Masyarakat datang mencari rumah. Pengembang datang menawarkan rumah. Pemerintah datang membawa kebijakan.
Kalau ketiganya bertemu pada satu kepentingan yang sama—rumah yang layak dan terjangkau—maka yang dibangun bukan hanya perumahan.
Tetapi juga keluarga-keluarga yang punya tempat untuk pulang.




