CIANJUR – Ada sesuatu yang ganjil, namun indah, dari sosok Raden Hasan. Ia Bupati Cianjur ke-10, bergelar Raden Aria Adipati Kusumaningrat. Tapi orang lebih akrab memanggilnya Dalem Pancaniti.
Mengapa?
Karena ia gemar berdiam di paviliun pendopo yang bernama Pancaniti. Nama tempat itu kemudian melekat menjadi identitas dirinya. Sebuah ironi halus: seorang bupati yang masa kecilnya dihabiskan di lingkungan keluarga Belanda, fasih berbahasa Inggris dan Belanda, justru menjadi penjaga gawang budaya Sunda yang paling ketat.
Dalem Pancaniti bukan sekadar administrator kolonial. Ia santri Pesantren Ciharashas Cilaku. Kealiman itu bukan tempelan. Buktinya, ia berani mengusir pembesar Belanda yang ketahuan pesta miras di kediaman Residen Cipanas.
Di era di mana banyak priyayi takut pada tuan tanah, Hasan berdiri tegak. Ia bahkan pernah menghukum diri sendiri dengan tidur di tangga pendopo, meminta setiap orang yang masuk untuk melangkahi dan meludahinya.
Sebuah bentuk pertobatan radikal atas kesalahan terhadap ayahnya, Dalem Prawiradireja I. Ini menunjukkan kedalaman spiritualitas yang jarang kita temui pada birokrat modern.
Namun, warisan terbesar Dalem Pancaniti bukanlah politik, melainkan seni. Ia pencipta Seni Mamaos dan pengembang Tembang Sunda Cianjuran. Ia memperkaya laras madenda (sorog) dalam permainan Kecapi Sunda.
Lirik ciptaannya, “ulah ngomong méméh leumpang” (jangan bicara sebelum berjalan/berpikir matang), adalah nasihat kepemimpinan yang abadi. Dari sinilah istilah Pancaniti berevolusi.
Secara etimologi, Panca berarti lima, Niti berarti titian atau pijakan. Awalnya merujuk pada paviliun, kini menjadi konsep filosofis perjalanan hidup manusia: dari alam roh, garba, dunia, barzah, hingga akhirat.
Di era modern, Purwakarta mengadopsi ini menjadi kurikulum karakter. Pancaniti menjadi lima tahap berpikir: Niti Harti (memahami teks), Niti Surti (menghayati makna), Niti Bukti (praktik nyata), Niti Bakti (mengabdi pada masyarakat), dan Niti Sajati (kebijaksanaan sejati).
Ini bukan sekadar teori pendidikan. Ini adalah peta jalan menuju manusia utuh.
Dalem Pancaniti mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa budaya adalah hampa, dan ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Mari kita telusuri kembali jejak kakinya, agar kita tidak hanya pandai berbicara, tapi juga bijak dalam melangkah.




