Edukasi

Dulu Naik Rakit, Kini Siswa SDN Budiharja Diantar Mobil

×

Dulu Naik Rakit, Kini Siswa SDN Budiharja Diantar Mobil

Sebarkan artikel ini
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyerahkan kendaraan operasional untuk siswa SDN Budiharja
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyerahkan kendaraan operasional untuk siswa SDN Budiharja

BANDUNG BARAT — Belasan siswa SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, kini tak lagi harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu untuk berangkat dan pulang sekolah. Pemkab Bandung Barat menyerahkan satu unit kendaraan operasional untuk melayani antar-jemput siswa yang selama puluhan tahun mengandalkan transportasi air.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, penyediaan kendaraan itu merupakan langkah cepat pemerintah daerah menjawab kebutuhan akses pendidikan yang mendesak, terutama dari sisi keamanan dan kenyamanan siswa.

“Hari ini saya menepati janji untuk memberikan kendaraan antar jemput bagi siswa SD Negeri Budiharja. Karena kebutuhannya mendesak, kita memilih solusi yang bisa langsung digunakan oleh anak-anak,” kata Jeje, Rabu (30/9/2026).

Kendaraan tersebut diserahkan kepada pemerintah desa untuk mengatur teknis layanan, mulai dari jadwal penjemputan hingga pengantaran siswa. Pemkab Bandung Barat juga menyiapkan biaya operasional selama enam bulan, termasuk bahan bakar dan honor pengemudi. Layanan itu diberikan gratis. Orang tua atau wali siswa tidak diperbolehkan membayar ongkos.

“Layanannya gratis, sehingga orang tua atau wali murid tidak diperbolehkan dikenakan pungutan apa pun. Teknis penggunaannya akan dikoordinasikan pemerintah desa dan pihak sekolah,” ujarnya.

Jeje menegaskan, kendaraan antar-jemput ini merupakan solusi sementara. Pemerintah daerah masih mendorong pembangunan akses permanen agar mobilitas siswa dan masyarakat tidak lagi bergantung pada transportasi air.

“Ini solusi sementara, bukan solusi permanen. Kita mengambil langkah tercepat karena kebutuhan anak-anak memang mendesak. Sambil solusi ini berjalan, kita tetap menyiapkan dan mendorong solusi permanen ke depannya,” katanya.

Pemilihan kendaraan darat dilakukan setelah pemerintah menerima berbagai masukan. Faktor keamanan dan kenyamanan siswa menjadi pertimbangan utama, terlebih saat memasuki musim penghujan yang berpotensi meningkatkan risiko perjalanan menggunakan transportasi air.

“Yang paling penting hari ini, anak-anak bisa berangkat dan pulang sekolah dengan lebih aman, tanpa harus lagi menggunakan rakit,” ujar Jeje.

Pemkab Bandung Barat memastikan layanan antar-jemput tetap berjalan sembari menyiapkan solusi jangka panjang. Salah satu alternatif yang tengah didorong adalah pembangunan jembatan sebagai akses penghubung menuju kawasan sekolah.

“Pembangunan jembatan, baik jembatan gantung, jembatan apung maupun alternatif lainnya, membutuhkan proses dan waktu. Sementara kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan akses sekolah yang lebih aman bersifat mendesak,” tandasnya.