REMBANG — Mencintai Rasulullah Muhammad SAW sering kali terasa lebih mudah dan lebih emosional bagi sebagian besar umat Islam dibandingkan dengan mencintai Allah SWT. Pernyataan ini disampaikan oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, dalam sebuah majelis ilmu yang videonya beredar luas.
Menurut Gus Baha, banyak ulama peneliti yang sepakat bahwa menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah lebih mudah.
“Kalau Anda bisa nangis, itu lebih gampang,” ujar Gus Baha menjelaskan reaksi emosional umat saat mengingat Nabi.
Ulama kharismatik asal Rembang ini membedah alasan teologis di balik fenomena ini. Menurutnya, Allah SWT memiliki sifat Ghaniyyun, yakni Dzat yang Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Gus Baha mengutip kaidah, “La tadhurruhu ma’shiyatuk wala tanfa’uhu tha’atuk.” Artinya, maksiat yang dilakukan seluruh manusia tidak akan memberikan kerugian bagi Allah, dan ketaatan ibadah seluruh makhluk tidak akan memberikan keuntungan tambahan bagi-Nya.
“Kalau kamu terlalu pede (percaya diri) ibadah, Allah itu nggak diuntungkan oleh ibadah Anda. Dunia maksiat semua, Allah juga nggak ngefek,” tegasnya.
Karena sifat ketuhanan yang absolut ini, manusia sering kali merasa ‘baik-baik saja’ karena tahu kemaksiatan mereka tidak meruntuhkan keagungan Tuhan. Sebaliknya, Rasulullah adalah manusia. Sebagai manusia yang diutus untuk membawa risalah, Nabi Muhammad SAW mengalami luka fisik, penderitaan batin, dan hujatan dari kaum kafir Quraisy.
“Nabi itu beda, karena manusia. Dilukai ya luka, dihujat ya sakit. Terus orang itu gampang kasihan sama Nabi,” jelas Gus Baha. Rasa iba (iba) dan simpati inilah yang membuat umat lebih mudah terkoneksi secara emosional dengan sang pembawa risalah.
Gus Baha juga memberikan contoh ekstrem tentang bagaimana Allah menunjukkan sifat Ghaniyyun dan Rahman-Nya. Wahsy, sosok yang paling dibenci Nabi karena telah membunuh paman beliau, Hamzah, justru mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Meski para sahabat dongkol, Allah membuktikan bahwa takdir hidayah adalah hak prerogatif-Nya yang mutlak, melampaui perasaan manusiawi.




