Peristiwa

Kandaga MASDA Dilantik: Saatnya Budaya Sunda Bangkit

×

Kandaga MASDA Dilantik: Saatnya Budaya Sunda Bangkit

Sebarkan artikel ini
Peringatan Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 Tingkat Jawa Barat
Peringatan Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 Tingkat Jawa Barat

BANDUNG – Gedung Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan No. 7–9, Bandung, menjadi saksi riuhnya semangat pelestarian tradisi pada Peringatan Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026. Acara yang diinisiasi oleh Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) ini tak sekadar diisi seremoni, tetapi juga pengukuhan Kandaga, Dewan Adat Sunda, dan Tim Rancage. Ruangan panggung berdekorasi ornamen janur dan bambu itu dipenuhi para tokoh nasional, pejabat daerah, hingga perwakilan masyarakat adat.

Di antara jajaran tamu penting, hadir Menkopolkam Jenderal Prof. Dr. Dudung Abdurachman, Laksamana TNI (Purn.) Dr. Ade Sopandi, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, tokoh berpengaruh Ceu Popong, serta Ketua DPRD Jabar Bucky Wikagoe. Kehadiran deretan pimpinan nasional asal Tanah Parahyangan ini menegaskan bahwa nilai-nilai kelokalan Sunda selalu berdampingan erat dengan pengabdian bagi bangsa.

Ketua Umum MASDA Jabar, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN. alias Abah Antom, menegaskan filosofi kepemimpinan yang membumi. “Saya tidak ingin jadi emas yang paling hebat. Saya lebih memilih jadi air yang dibutuhkan setiap orang,” tuturnya.

Mengutip pentingnya persatuan, Abah Anton mengajak seluruh komponen suku Sunda untuk sauyunan dan sabilulungan. Upaya merangkul seluruh elemen ini dibuktikan dengan dibentuknya Tim Kandaga hingga ke tingkat internasional, mencakup Amerika Serikat, Australia, dan Eropa.

Perspektif sejarah turut ditegaskan oleh Laksamana Dr. Ade Sopandi. Mengulas kembali Amanat Galunggung dan Wasiat Sanghyang Siksa Kandang Karesian, beliau mengingatkan agar akar budaya tidak runtuh ditelan zaman. Ade Sopandi mendorong para tokoh dan masyarakat mampu mendata aset ekosistem budaya, sekaligus menghidupkan kembali seni tradisional seperti wayang dalam agenda-agenda resmi maupun kemasyarakatan. Menurutnya, orang Sunda harus berani tampil di depan dengan semangat teu kumeok memeh dipacok.

Peringatan ini terasa kian krusial saat Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan, menyoroti tantangan degradasi moral di kalangan generasi muda. Lunturnya penguasaan bahasa Sunda dan memudarnya etika sopan santun murid terhadap guru menjadi keprihatinan bersama. Menurut Erwan, ungkapan silih asah, silih asih, silih asuh harus diwujudkan sebagai pedoman hidup sehari-hari. Budaya bukan cuma ingatan masa lalu, melainkan fondasi membina karakter dan budi pekerti generasi masa depan.

Langkah awal telah diayunkan di Bandung. Melalui kebersamaan ini, orang Sunda membuktikan bahwa kemajuan zaman dapat diraih tanpa harus kehilangan jati diri. Merawat budaya adalah merawat masa depan bangsa.