BANDUNG – Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA), AKBP (Purn) Anton Charliyan, kembali mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan adat, tradisi, serta budaya warisan leluhur Sunda agar tidak tergerus arus modernisasi dan pengaruh budaya asing.
Tokoh yang akrab disapa Abah Anton itu menegaskan, masyarakat Sunda jangan sampai menjadi “tuan asing di rumah sendiri” akibat kehilangan identitas budaya yang diwariskan para karuhun secara turun-temurun.
Menurut Abah Anton, pesan tersebut sejalan dengan amanat yang terkandung dalam Naskah Lontar Amanat Galunggung yang mengingatkan pentingnya menjaga kabuyutan atau warisan suci leluhur sebagai bagian dari kehormatan dan jati diri masyarakat Sunda.
“Jangan sampai baru merasa memiliki setelah kehilangan. Jangan sampai adat dan budaya kita tergeser budaya lain. Ulah tepi ka jati kasilih ku junti,” tegas Abah Anton dalam keterangannya, Sabtu (6/6).
Mantan Kapolda Jawa Barat itu menyoroti derasnya pengaruh budaya global yang saat ini banyak memengaruhi generasi muda, khususnya Generasi Z. Menurutnya, kemajuan zaman harus diikuti, namun tidak boleh menghilangkan akar budaya dan identitas bangsa.
“Modernisasi harus disikapi secara bijak. Kita boleh maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi adat istiadat, bahasa, aksara, tradisi, dan nilai-nilai budaya harus tetap dijaga sebagai identitas dan kehormatan urang Sunda,” katanya.
Abah Anton juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, budayawan, akademisi, pemuda hingga masyarakat umum untuk bersama-sama merawat budaya Sunda dan budaya Nusantara agar tetap lestari.
Ia mengingatkan bahwa sejumlah warisan budaya Indonesia pernah menjadi polemik karena diklaim atau diakui negara lain, seperti batik, keris, pencak silat, reog, lagu Rasa Sayange, hingga kuliner rendang.
Karena itu, masyarakat diminta lebih serius menjaga berbagai warisan budaya Sunda, mulai dari bahasa daerah, aksara Sunda, pakaian adat, seni tradisional, pusaka, kuliner khas hingga nilai-nilai filosofi Kasundaan.
Menurutnya, nilai-nilai luhur seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar tetap menjadi ruh kehidupan masyarakat Sunda di tengah perubahan zaman.
“Tanah Parahyangan kaya akan budaya, kaya kearifan lokal, dan kaya peradaban. Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga, merawat, dan meneruskan warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Abah Anton pun menutup pesannya dengan seruan untuk menjaga kabuyutan dan marwah budaya Nusantara sebagai identitas bangsa yang beradab dan berkarakter.
“Omat jaga kabuyutan, ulah nepi ka direbut ku asing. Mari jaga budaya Sunda dan budaya Nusantara sebagai warisan luhur bangsa,” pungkasnya.








