BANDUNG – Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Daddy Rohanady, menilai kenaikan harga Pertamax yang dilakukan pemerintah masih dapat dipahami jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi global dan dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurut Daddy, kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) tidak bisa dilepaskan dari situasi ekonomi yang sedang berkembang, termasuk tekanan eksternal yang memengaruhi perekonomian nasional.
“Kenaikan harga ini, saya kira erat kaitannya dengan situasi ekonomi terkini. Penyesuaian dengan kurs dolar pasti tak terhindarkan. Kita semua juga tahu bahwa perekonomian Indonesia bukanlah independen dalam arti terbebas dari segala pengaruh,” kata Daddy, Rabu (10/6/2026).
Ia menilai pemerintah memiliki pertimbangan rasional dalam menetapkan besaran kenaikan harga sejumlah jenis BBM non-subsidi tersebut.
“Oleh karena itu, menurut hemat saya, kenaikan harga beberapa jenis BBM masih bisa dipahami. Persoalan berapa besarannya, saya kira pemerintah memiliki alasan rasional di balik itu,” ujarnya.
Meski demikian, Daddy mengakui kebijakan kenaikan harga BBM selalu memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Menurutnya, munculnya pihak yang mendukung maupun menolak merupakan hal yang lumrah dalam sistem demokrasi.
“Bahwa kemudian kebijakan itu ada yang tidak setuju, tak dapat dihindari. Mengapa? Setiap kebijakan pasti ada pro dan kontra. Masing-masing pihak pasti pula memiliki argumentasi,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat melihat kebijakan tersebut secara proporsional dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang sedang dihadapi pemerintah, sekaligus tetap membuka ruang kritik dan masukan yang konstruktif terhadap setiap kebijakan publik.
Diketahui, harga Pertamax dipatok sebesar Rp 16.250 per liter, atau mengalami kenaikan sebesar Rp 3.950. Sementara, harga Pertamax Green 95 tercatat Rp 17.000 per liter, atau naik Rp 4.100.







