TEHERAN — Sejumlah kapal tanker minyak dan kapal kargo milik Iran mulai melintas melewati Selat Hormuz tanpa hambatan, Senin (16/6/2026), menandai awal pencabutan blokade yang selama ini membekap jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan media Iran menyebutkan setidaknya tiga kapal tanker minyak berukuran sangat besar (very large crude carrier) beserta kapal pengangkut kebutuhan pokok tengah berlayar dari perairan internasional menuju pelabuhan-pelabuhan Iran, menembus zona blokade tanpa insiden.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Mohammad Vall, menyebut pergerakan kapal-kapal tersebut sebagai gestur niat baik (goodwill gesture) dari Washington menjelang upacara penandatanganan perjanjian yang dijadwalkan berlangsung Jumat mendatang.
“Ada sesuatu yang sedang terjadi. Ini adalah awal pencabutan blokade — bukan pencabutan penuh, tetapi Amerika kini mengizinkan kapal-kapal Iran melintas, baik keluar menuju laut terbuka maupun kembali ke pelabuhan Iran,” ujar Vall.
Namun proses normalisasi pelayaran tidak semulus yang diharapkan. Koresponden Al Jazeera di Gedung Putih, Kimberly Halkett, melaporkan Washington secara terbuka menurunkan ekspektasi publik terkait pembukaan penuh Selat Hormuz.
“Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri AS menegaskan agar ekspektasi diturunkan karena proses demining membutuhkan waktu — tergantung cuaca, padat karya, dan bisa memakan waktu beberapa pekan,” jelas Halkett.
Pihak AS menyatakan pembukaan resmi selat secara seremonial akan berbeda dari pembukaan operasional yang baru bisa terjadi setidaknya dua pekan ke depan. Di sisi lain, perusahaan asuransi maritim komersial juga diperkirakan belum segera memberikan clearance bagi kapal-kapal yang ingin melintas meski jalur tersebut telah dinyatakan resmi terbuka.
Ketegangan teknis lain juga mengintai. Iran menegaskan bahwa segala aktivitas di Selat Hormuz — termasuk operasi demining yang akan dilakukan negara-negara Eropa dan AS — harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Teheran, mengingat Iran belum secara resmi menarik diri dari posisinya di selat tersebut.
“Apa pun yang dilakukan di Selat Hormuz, termasuk demining, navigasi, atau hal lainnya, harus dikoordinasikan dengan Iran. Ada potensi ketidaksepakatan bahkan sebelum Jumat jika negara-negara itu bertindak tanpa koordinasi,” tegas Vall.
Di sisi substansi perjanjian, Iran menempatkan pencabutan sanksi dan pencairan aset yang dibekukan sebagai prioritas utama — jauh melampaui kepentingan isu nuklir. Teheran berargumen pengurangan tingkat pengayaan uranium bukan konsesi besar karena Iran memang tidak pernah mengejar senjata nuklir.
“Pencabutan sanksi dan pencairan aset adalah hal yang bahkan tidak pernah diimpikan Iran sebelum perang ini. Kini keduanya ada di meja perundingan. Jika tercapai, ini adalah kemenangan nyata bagi Teheran,” ujar Vall mengutip sikap pejabat Iran.
Penandatanganan nota kesepahaman (MOU) antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung Jumat (19/6/2026), dengan kehadiran delegasi Eropa dan AS di Teheran untuk memulai proses teknis normalisasi. (Sumber : AlJazeera)








