BANDUNG – Kang Oos Supyadin ini orang yang tidak pernah lelah mengurus sejarah.
Ia pemerhati kesejarahan dan budaya. Asli Garut. Sudah puluhan tahun menggeluti naskah-naskah lama. Ia kirim tulisan ke saya. Panjang. Isinya soal Kerajaan Timbanganten.
Saya baca. Ternyata menarik.
Selama ini orang tahunya Bandung. Ya, kota kembang. Kota yang dibangun Belanda. Tapi hampir tidak ada yang tahu bahwa di balik Bandung ada kerajaan yang lebih tua. Namanya Timbanganten.
Kerajaan ini jejaknya ada di naskah Sadjarah Bandoeng. Bukan naskah sembarangan. Naskah ini mencatat silsilah panjang para penguasa Tatar Ukur.
Semuanya dimulai dari Prabu Derma Kingkin.
Ia putra Prabu Santen Rama Dewa. Putra Nyai Putri Inten Dewata. Putra Prabu Permana Di Puntang. Prabu Permana inilah Nalendra terakhir Kerajaan Mandala Puntang di Panembong.
Lalu Prabu Derma Kingkin memindahkan pusat kerajaan. Dari Panembong ke Timbanganten. Daerah sekitar Gunung Guntur. Yang sekarang kita kenal sebagai Tarogong.
Nama kerajaannya pun diganti. Dari Mandala Puntang menjadi Timbanganten.
Prabu Derma Kingkin punya enam putra.
Sunan Kacue. Yang dikenal sebagai Baginda Salemba. Nalendra Sunan Ranggalawe. Dalem Cicabe di Suci Garut. Dalem Cibeureum di Korobokan Limbangan. Dalem Kandang Serang di Cilolohan. Dan Dalem Kowang di Pagaden Subang.
Enam putra. Tersebar di mana-mana. Ini bukan kerajaan kecil.
Setelah Prabu Derma Kingkin wafat, Sunan Ranggalawe naik takhta. Beribukota di Korobokan Tarogong.
Lalu berganti-ganti penguasa. Sunan Kaca. Sunan Tumenggung Pateon. Sunan Pari. Sunan Pangadegan. Yang terakhir ini dimakamkan di Pulau Cangkuang.
Kemudian Sunan Demang. Ia dibunuh di Mataram. Digantikan Sunan Saanugiren alias Sampireun. Lalu Demang Wirakrama. Lalu Raden Demang Candradita. Yang kemudian menjadi Penghulu Bandung.
Menarik.
Salah satu keturunannya, Raden Demang Ardisutanagara alias Tumenggung Ardikusumah, menjadi Dalem di Bandung. Dimakamkan di Astana Tenjolaya Timbanganten.
Inilah garis yang menghubungkan Timbanganten dengan Bandung. Bukan garis lurus. Tapi berkelok. Tersambung lewat pernikahan, peralihan kekuasaan, dan pergantian generasi.
Sampai akhirnya muncul nama Dalem Bintang. Raden Adipati Kusumadilaga Bintang. Penguasa terakhir dalam catatan itu.
Tapi cerita belum selesai.
Catatan lain dalam Sadjarah Bandoeng menyebut sesuatu yang lebih besar. Sejak pertengahan abad ke-15, Timbanganten diperintah turun-temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur.
Pada masa Dipati Ukur, wilayah Tatar Ukur sangat luas. Mencakup sebagian besar Jawa Barat. Terdiri dari sembilan daerah. Mereka menyebutnya Ukur Sasanga.
Sembilan.
Itu bukan angka main-main. Sembilan daerah berarti satu konfederasi. Atau setidaknya satu wilayah kekuasaan yang terstruktur.
Dan pusatnya di Timbanganten. Di kaki Gunung Guntur.
Sekarang, coba tanya orang Bandung. Di mana Timbanganten? Kebanyakan tidak tahu. Coba tanya orang Garut. Sebagian tahu Tarogong. Tapi tidak tahu bahwa di situ pernah berdiri kerajaan.
Inilah yang membuat saya prihatin.
Kita bangga dengan Bandung. Dengan gedung-gedung art deco. Dengan Jalan Asia Afrika. Dengan konferensi 1955.
Padahal jauh sebelum itu, di selatan Bandung, di lereng gunung yang masih berapi, sudah ada peradaban. Ada raja. Ada silsilah. Ada wilayah kekuasaan yang membentang dari Subang sampai Garut.
Kita lupa.
Bukan karena tidak ada catatan. Catatannya ada. Tersimpan dalam naskah. Ditulis tangan. Diwariskan dari generasi ke generasi.
Tapi kita lebih suka sejarah yang dikemas rapi oleh kolonial.
Padahal sejarah kolonial itu hanya satu bab. Bab terakhir. Bab yang paling tipis.
Sejarah Timbanganten adalah bab yang lebih tebal. Bab yang lebih tua. Bab yang menjelaskan mengapa Bandung ada.
Dan bab itu ditulis bukan oleh Belanda. Tapi oleh orang Sunda sendiri. Dalam bahasa Sunda. Dengan aksara Sunda kuno.
Maka ketika Oos Supyadin mengirim tulisan itu ke saya, saya pikir ini penting. Bukan karena saya orang Garut. Tapi karena ini bagian dari ingatan kolektif yang nyaris hilang.
Timbanganten bukan sekadar nama tempat. Ia adalah simpul. Simpul yang menghubungkan Panembong, Tarogong, Cangkuang, Limbangan, dan Bandung.
Tanpa simpul itu, sejarah Bandung akan selalu terasa menggantung. Seperti pohon tanpa akar.
Kita tahu ada Bandung. Tapi tidak tahu dari mana asalnya.
Sekarang kita tahu.
Dari Timbanganten.
Dari kaki Gunung Guntur.
Dari kerajaan yang berdiri jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Nusantara.
Wallahu a’lam.





