BANDUNG — Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada pilihan sulit. Antara dua pekerjaan, dua calon pasangan, atau dua keputusan besar yang menentukan masa depan. Dalam Islam, ada ibadah khusus untuk memohon petunjuk Allah dalam situasi seperti ini: shalat istikharah.
Pengertian dan Hukum Shalat Istikharah
Istikharah secara bahasa berarti meminta kebaikan (thalab al-khair). Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan untuk memohon kepada Allah agar diberikan pilihan terbaik ketika dihadapkan pada suatu keputusan yang mubah atau belum jelas mana yang lebih baik.
Hukumnya adalah sunnah dan sangat dianjurkan ketika seseorang ragu dalam mengambil keputusan. Dalilnya adalah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat dari Al-Qur’an.” (HR. Bukhari no. 1166)
Hadis ini menunjukkan bahwa istikharah bukan hanya untuk urusan besar, tetapi untuk segala urusan yang kita ragukan.
Kapan Shalat Istikharah Dilakukan?
Shalat istikharah dianjurkan ketika:
1. Dihadapkan pada pilihan yang mubah (boleh), seperti memilih pekerjaan, jurusan kuliah, atau calon pasangan.
2. Tidak ada dalil yang melarang pilihan tersebut. Istikharah tidak berlaku untuk perkara yang haram atau wajib.
3. Merasa ragu antara dua pilihan atau lebih, dan tidak ada yang lebih unggul secara dalil.
Waktu Terbaik Melaksanakan Shalat Istikharah
Tidak ada waktu khusus yang diwajibkan. Shalat istikharah boleh dilakukan kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk shalat sunnah (setelah Subuh hingga matahari terbit, saat matahari tepat di atas kepala, dan setelah Ashar hingga terbenam). Waktu yang paling utama adalah malam hari atau sepertiga malam terakhir, karena itu waktu mustajab untuk berdoa.
Tata Cara Shalat Istikharah
Berikut langkah-langkahnya:
1. Berwudhu dan menghadap kiblat dengan khusyuk.
2. Shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas. Namun, membaca surat lain juga diperbolehkan.
3. Setelah salam, duduk dan memuji Allah serta membaca shalawat kepada Nabi ﷺ.
4. Membaca doa istikharah yang diajarkan Nabi ﷺ (teks di bawah).
5. Menyebutkan hajat atau pilihan yang sedang dihadapi di dalam doa, misalnya: “Ya Allah, jika pekerjaan ini baik untuk agama, dunia, dan akhiratku, maka takdirkanlah untukku…”
6. Bertawakal dan menerima hasil. Setelah istikharah, hati akan cenderung pada satu pilihan, atau Allah akan memudahkan jalan menuju pilihan yang terbaik.
Doa Shalat Istikharah
Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ
Arab-Latin:
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as’aluka min fadhlikal-‘azhim. Fa innaka taqdiru wa la aqdiru, wa ta’lamu wa la a’lamu, wa anta ‘allamul-ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal-amra khairun li fi dini wa ma’asyi wa ‘aqibati amri, faqdurhu li wa yassirhu li, tsumma barik li fih. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal-amra syarrun li fi dini wa ma’asyi wa ‘aqibati amri, fasrifhu ‘anni wasrifni ‘anhu, waqdur liyal-khaira haitsu kana, tsumma ardhini bih.
Artinya:
“Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari keutamaan-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka takdirkanlah untukku, mudahkanlah, lalu berkahilah. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkan aku darinya, dan takdirkanlah untukku kebaikan di mana pun berada, lalu buatlah aku ridha dengannya.”
Saat berdoa, sebutkan urusan yang dimaksud di tempat kata “hadzal-amra” (urusan ini). Misalnya: “Allahumma in kunta ta’lamu anna pekerjaan ini khairun li…”
Tanda Jawaban Istikharah
Tidak ada tanda khusus yang wajib, seperti mimpi atau firasat. Namun, para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah:
· Hati menjadi lapang dan mantap pada satu pilihan.
· Allah memudahkan jalan menuju pilihan tersebut.
· Atau sebaliknya, Allah menutup jalan menuju pilihan yang buruk.
Yang terpenting, setelah berdoa, bertawakal dan melanjutkan ikhtiar. Jika hasilnya tidak sesuai keinginan, yakinlah bahwa Allah memberi yang terbaik.
Catatan Penting
· Istikharah bukan untuk menentukan yang halal dan haram. Itu ranah ilmu dan fatwa.
· Istikharah tidak menghilangkan kewajiban berikhtiar. Tetap kumpulkan informasi, konsultasi dengan ahli, lalu istikharah.
· Tidak perlu menunggu mimpi. Cukup amalkan, lalu jalani dengan tawakal.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: HR. Bukhari no. 1166, 1167; HR. Tirmidzi; Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq; Al-Adzkar Imam An-Nawawi.




