Puasa Ramadan tinggal menghitung hari. Berdasarkan kalender hari ini, Kamis, 1 Januari 2026, awal puasa Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan 47–48 hari lagi. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah juga memprediksi tanggal yang sama dan akan menetapkan secara resmi melalui sidang isbat menjelang akhir Syakban. Ramadan 2026 diperkirakan berlangsung 29 atau 30 hari, dengan Idulfitri sekitar 20 Maret 2026. Waktu terasa panjang, tetapi sejatinya sangat singkat bila tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Puasa Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah madrasah ruhani yang Allah hadirkan setahun sekali untuk membentuk manusia bertakwa. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Maka pertanyaan terpenting menjelang Ramadan bukan hanya berapa hari lagi, tetapi apa yang sudah kita siapkan?
Apa yang Perlu Disiapkan Menjelang Ramadan
Pertama, niat dan tekad yang jujur. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menjalankan puasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim). Tanpa niat yang lurus, puasa bisa kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan lapar serta dahaga.
Kedua, membersihkan hati dan memperbaiki hubungan. Ramadan adalah bulan ampunan. Maka masukilah ia dengan hati yang lapang: memaafkan, menghentikan permusuhan, dan menjauhi dosa-dosa lisan seperti ghibah serta fitnah. Inilah bekal yang sering dilupakan, padahal sangat menentukan kualitas ibadah.
Ketiga, mempersiapkan fisik dan waktu. Mulailah melatih diri dengan puasa sunnah, mengatur pola tidur, dan merapikan jadwal harian agar Al-Qur’an, shalat, dan dzikir mendapat porsi utama selama Ramadan.
Ibadah Paling Afdal Menjelang Ramadan
Ibadah yang paling afdal menjelang puasa Ramadan adalah memperbanyak taubat, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, dan dzikir. Rasulullah ﷺ dikenal memperbanyak puasa di bulan Syakban sebagai persiapan ruhani menuju Ramadan (HR. Bukhari dan Muslim). Para ulama juga menganjurkan memperbanyak istighfar dan doa agar Allah menyampaikan kita pada Ramadan dalam keadaan terbaik.
Selain itu, sedekah dan amal sosial menjadi latihan penting. Ramadan bukan hanya tentang kesalehan pribadi, tetapi juga kepedulian sosial. Hati yang dermawan akan lebih mudah khusyuk saat beribadah.
Puasa Ramadan yang sukses tidak dibangun pada hari pertama puasa, tetapi ditanam jauh hari sebelumnya. Jika hari ini kita mulai bersiap—meluruskan niat, membersihkan hati, dan melatih ibadah—maka Ramadan nanti tidak akan berlalu sia-sia. Ia akan hadir sebagai bulan yang mengubah, bukan sekadar lewat dalam kalender.





