Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian mengkhawatirkan. Retorika keras Presiden AS Donald Trump yang dibarengi pengerahan armada tempur ke kawasan Teluk dinilai membawa dunia pada ambang konflik berskala besar.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teku Reza, menilai situasi saat ini memasuki fase paling krusial, terutama menjelang 11 Februari, hari nasional Iran yang memperingati Revolusi Islam 1979.
“Periode sekarang hingga 11 Februari sangat sensitif. Iran ingin menunjukkan kemenangan revolusi, sementara Amerika Serikat justru ingin menekan Iran pada momentum simbolik tersebut,” kata Reza dalam wawancara, Selasa.
Menurut Reza, ancaman Trump bukan sekadar retorika politik. Sejak akhir Desember, Trump secara terbuka melontarkan ancaman militer dengan bahasa keras, termasuk pernyataan akan “menghancurkan Iran”, serta tudingan bahwa Teheran terus mempercepat pengembangan nuklirnya.
Ancaman tersebut diperkuat dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) ke kawasan sekitar Timur Tengah, yang membawa sekitar 5.000 personel tempur, puluhan pesawat tempur canggih, termasuk F-35C, serta armada pendukung lainnya.
“Itu bukan sekadar intimidasi. Ini persiapan perang yang nyata. Kapal induk tersebut memungkinkan Amerika mengoordinasikan serangan udara skala besar,” tegas Reza.
Namun, Reza mengingatkan bahwa Iran bukan tanpa perlawanan. Teheran, kata dia, telah menyiapkan berbagai peluru kendali jarak pendek dan menengah, seperti Fateh, Shahab, Zulfikar, Qiam, Emad hingga Sejjil, yang telah diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk di Qatar, Bahrain, dan Yordania.
“Iran sangat solid secara internal. Kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei masih sangat kuat dan didukung rakyat. Jika Amerika melakukan serangan pertama, Iran hampir pasti akan membalas secara masif,” ujarnya.
Reza menilai, jika konflik pecah dan berlangsung lebih dari beberapa hari, dampaknya akan meluas ke kawasan dan berpotensi mengguncang stabilitas global.
“Ini bukan konflik biasa. Ini bisa menjadi perang regional dengan implikasi global,” pungkasnya. (Sumber: Youtube METRO TV)








