Di sebuah aula sederhana di SLB Muhammadiyah Karangpawitan, semangat perubahan terasa kuat. Selama dua hari, Selasa–Rabu, 3–4 Februari 2026, puluhan pendidik Sekolah Luar Biasa (SLB) swasta di Kabupaten Garut berkumpul, belajar, dan berbagi gagasan dalam Program Inhouse Training (IHT) Pancawaluya.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan rutin. IHT Pancawaluya menjadi tonggak awal penguatan mutu SLB swasta di Garut, sejalan dengan program strategis Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk membangun satuan pendidikan yang berkarakter, adaptif, dan berprestasi.
Sebanyak 44 peserta dari empat SLB swasta yang tergabung dalam Kelompok 1 Korwil III Kabupaten Garut ambil bagian. Mereka berasal dari SLB Muhammadiyah Karangpawitan, SLB Putra Hanjuang, SLB Nurhakam, dan SLB Nusantara Kita. Peserta terdiri dari kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, hingga perwakilan komite sekolah—mewakili denyut nadi pengelolaan pendidikan SLB swasta.
Tak hanya peserta, kegiatan ini juga diwarnai kehadiran fasilitator dan pengawas langsung dari tingkat provinsi. Feny Afifah Purnamasari, S.Pd., Gr., M.Pd. dan Fitri Melani, S.Pd.I. hadir sebagai fasilitator dan pelatih Pancawaluya. Sementara pengawasan dilakukan oleh Sri Eka Fitri Lestari, M.Pd., Pengawas Pembina SLB dari KCD Wilayah XI.
Dalam sambutannya, Sri Eka Fitri Lestari menegaskan bahwa Pancawaluya merupakan kebijakan strategis Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang diarahkan untuk memperkuat karakter dan prestasi satuan pendidikan, termasuk SLB swasta.
“Program Pancawaluya adalah upaya konkret membangun sekolah yang berdaya saing. Antusiasme peserta di Garut menjadi modal penting untuk mendorong SLB swasta agar terus maju dan berkualitas,” ujarnya.
Sebagai tuan rumah perdana, SLB Muhammadiyah Karangpawitan menyambut kegiatan ini dengan penuh apresiasi. Kepala sekolah setempat menyebut IHT Pancawaluya sebagai ruang belajar bersama yang sangat dibutuhkan oleh pendidik SLB swasta.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan ini. IHT Pancawaluya akan dilaksanakan secara rutin setiap semester sebagai ikhtiar berkelanjutan meningkatkan mutu pendidikan SLB,” katanya.
Dari Karangpawitan, langkah kecil ini diharapkan menjadi gerakan besar. IHT Pancawaluya bukan hanya tentang pelatihan, tetapi tentang membangun harapan—agar pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di Garut tumbuh semakin bermutu, berkarakter, dan bermakna.








