Skandal Epstein Files terus memicu gempa politik lintas negara. Di Amerika Serikat, pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi tekanan keras terkait penanganan dan keterbukaan dokumen kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya dibuka ke publik.
Sorotan terbaru tertuju pada Ghislaine Maxwell, mantan pasangan Epstein, yang dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan House Oversight Committee. Namun, tim kuasa hukumnya menyatakan Maxwell akan memilih bungkam.
Jurnalis keamanan nasional dan urusan luar negeri DropSite News, Ritaj Hussain, menilai sikap diam Maxwell sarat muatan politik. Ia menyebut adanya indikasi negosiasi di balik layar, termasuk peluang pengampunan (pardon) dari Trump.
“Masih ada pertarungan politik sengit untuk mencegah pengungkapan dokumen lebih luas. Maxwell mengetahui terlalu banyak detail sensitif yang bisa menyeret banyak tokoh berkuasa,” ujar Hussain.
Menurutnya, arsip Epstein yang belum dirilis berpotensi melampaui skandal besar seperti Watergate dan Iran-Contra, karena melibatkan jejaring elite politik, bisnis, dan intelijen lintas negara. Sejumlah legislator AS, seperti Thomas Massie dan Ro Khanna, secara terbuka mendorong pembukaan penuh dokumen tersebut.
Isu ini juga menyeret nama Bill dan Hillary Clinton, yang dikabarkan diminta hadir di Kongres. Meski Trump kerap menyebut kasus Epstein sebagai “isu Demokrat”, Hussain menilai framing partisan itu rapuh, mengingat Trump sendiri memiliki relasi personal dengan Epstein di masa lalu.
“Sulit menjual narasi ini sebagai semata isu Demokrat, karena saat ini justru pemerintahan Republik yang dituduh menekan dan membatasi pengungkapan fakta,” katanya.
Dampak Epstein Files juga merembet ke Eropa. Di Inggris, pemerintah Perdana Menteri Keir Starmer berada di bawah tekanan setelah terungkapnya hubungan dekat Lord Peter Mandelson dengan Epstein. Mandelson, yang ditunjuk sebagai duta besar Inggris untuk AS, disebut bukan sekadar kenalan, melainkan bagian dari lingkar dalam Epstein selama bertahun-tahun.
“Pemecatan Mandelson sangat mungkin terjadi. Dokumen menunjukkan relasi yang jauh lebih dalam, termasuk keterlibatan dalam aktivitas intelijen dan lobi politik,” ungkap Hussain.
Lebih jauh, investigasi DropSite News mengungkap dimensi lain yang jarang dibahas: koneksi Epstein dengan Israel. Epstein disebut memiliki hubungan sangat dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, bahkan terlibat dalam jalur diplomasi dan intelijen tidak resmi (track-two diplomacy).
Epstein dilaporkan berperan dalam membuka jalur negosiasi rahasia antara Israel dengan Rusia, Mongolia, Pantai Gading, hingga negara-negara lain, termasuk memfasilitasi penanaman teknologi keamanan dan intelijen Israel di berbagai kawasan.
“Epstein bukan sekadar kolektor relasi elite. Ia aktor aktif dalam negosiasi geopolitik, ekonomi, dan intelijen,” tegas Hussain.
Skandal Epstein Files kini dipandang sebagai pintu masuk untuk membongkar jejaring kekuasaan global yang selama ini tertutup rapat. Pertanyaannya tinggal satu: sejauh mana negara-negara besar bersedia membuka kebenaran—dan siapa saja yang akan jatuh bersamanya. (Sumber: Youtube France 24)







