Skandal baru kembali mencuat dari jaringan pedofil Jeffrey Epstein. Bukan sekadar kasus eksploitasi seksual, dokumen bocor terbaru mengungkap Epstein adalah aktor kunci yang membangun jalan bagi normalisasi Israel-UEA, jauh sebelum Abraham Accords resmi ditandatangani.
Fakta ini diungkap Craig Mokhiber, mantan pejabat tinggi PBB, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera. Ia menyebut Epstein sebagai “arsitek bayangan” yang bekerja sistematis menghapus hak Palestina dari peta geopolitik Timur Tengah.
Epstein, Ehud Barak, dan Sultan Pelabuhan
Dokumen yang bocor menunjukkan Epstein menjadi perantara pertemuan rahasia antara Ehud Barak—mantan Perdana Menteri Israel—dengan Sultan Ahmed bin Sulayem, CEO DP World, raksasa logistik Dubai.
Yang mencengangkan, hubungan Epstein dan bin Sulayem bukan sekadar bisnis. Keduanya saling berkirim lelucon vulgar, foto-foto tidak senonoh, hingga informasi pribadi. Bin Sulayem bahkan disebut menginap di pulau pribadi Epstein, Little St. James, yang selama ini dikenal sebagai sarang kejahatan seksual.
Tak berhenti di situ, seorang pembeli misterius diketahui membeli pulau tetangga. Identitasnya? Lagi-lagi mengarah ke Sultan bin Sulayem.
Senjata Siber, Intelijen, dan Infrastruktur
Epstein tak sekadar menjembatani pertemuan. Ia aktif mendorong investasi bin Sulayem ke sektor logistik Israel, sekaligus mempromosikan teknologi siber dan sistem pengawasan buatan Israel untuk dipasang di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola UEA.
“Ini cetak biru Abraham Accords, dan UEA adalah laboratoriumnya,” tegas Mokhiber.
Kerja sama intelijen dan komersial ini berlangsung bertahun-tahun, jauh sebelum publik tahu soal perjanjian normalisasi. Semua diam-diam, tanpa parlemen, tanpa pengawasan publik.
Diplomasi atau Konspirasi Bisnis?
Bagi Mokhiber, Abraham Accords tak lebih dari skenario busuk AS-Israel untuk menormalisasi rezim apartheid di tengah dunia Arab. Caranya? Lewat kolaborasi elite bisnis, teknologi, dan intelijen.
“Rakyat Palestina terus dibantai, tanah mereka dirampas, sementara elite Teluk sibuk jabat tangan dengan penjajah,” ujar Mokhiber.
DP World hingga kini bungkam. Sultan bin Sulayem belum memberikan pernyataan. Namun publik mulai bertanya: apakah hubungan intim antara raksasa pelabuhan Dubai dan seorang predator seks ini hanya kebetulan?
Epstein Mati, Jaringannya Tetap Hidup
Epstein memang mati di sel penjara tahun 2019. Secara resmi, ia gantung diri. Banyak yang tak percaya.
Yang jelas, jaringan yang ia bangun masih utuh. UEA dan Israel kini sah bermitra. Pelabuhan-pelabuhan strategis mulai dipasangi teknologi Israel. Hak asasi manusia? Urusan nomor sekian.
Mokhiber menutup dengan nada getir: “Ini bukan diplomasi. Ini cuci dosa. Mereka menormalisasi kejahatan atas nama uang. Dan Palestina terus dibantai.” (Sumber: Al Jazeera)







