Internasional

Perang Panjang dengan Iran Bakal Bikin AS Buntung

×

Perang Panjang dengan Iran Bakal Bikin AS Buntung

Sebarkan artikel ini
Armada Kapal Induk AS
Ilustrasi: Armada Kapal Induk AS

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial. Opsi yang tersedia bagi Gedung Putih hanya dua: melancarkan serangan terbatas untuk memaksa negosiasi, atau terjebak dalam perang panjang yang berisiko menguras anggaran dan legitimasi politik.

Presiden Donald Trump telah memberi tenggat waktu hingga awal Maret 2026 agar Teheran menyepakati tuntutan Washington. Ultimatum itu disampaikan pada 18 Februari 2026, dengan jangka waktu dua pekan bagi jalur diplomasi untuk membuahkan hasil.

Di lapangan, pengerahan militer AS meningkat tajam. Kehadiran pasukan disebut sebagai yang terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Puluhan jet tempur dan kapal induk disiagakan di kawasan Teluk.

Namun Iran tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Teheran tetap menggelar latihan militer bersama Rusia di Laut Oman, sembari mempercepat pemulihan fasilitas strategisnya.

Fasilitas uji coba rudal yang sempat rusak dikabarkan kembali beroperasi dalam hitungan bulan. Di sektor nuklir, aktivitas bawah tanah di Natanz dan Isfahan terus dipantau, dengan struktur baru yang dibangun untuk menutupi pemulihan dari pengawasan satelit.

Sejarah mencatat, tekanan militer Washington kerap berujung bumerang. Alih-alih melumpuhkan, sanksi dan ancaman justru memperkuat narasi kedaulatan Iran.

Pengamat menilai kesalahan mendasar AS adalah gagal memahami cara pikir Teheran dalam bernegosiasi. Bagi Iran, tuntutan penghentian program rudal, nuklir, hingga jaringan proksi dianggap sebagai upaya melucuti pertahanan diri.

Dalam kalkulasi militer Iran, perang bukan untuk dimenangkan secara cepat, melainkan untuk menyeret lawan dalam konflik berkepanjangan yang mahal dan melelahkan. Strategi ini dibangun selama puluhan tahun, dengan asumsi bahwa kekuatan ekonomi dan politik AS tidak kebal terhadap tekanan jangka panjang.

Bayang-bayang perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan masih menghantui Washington. Perang panjang di ketiga negara itu tidak menghasilkan kemenangan mutlak, melainkan beban fiskal dan politik.

Ancaman lain yang tak kalah strategis adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Jika konflik terbuka terjadi, pasar energi global bisa terguncang, dan dampaknya akan terasa hingga ke dalam negeri Amerika.

Bagi Trump, pertaruhannya bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga janji kampanye untuk mengakhiri “perang abadi” yang membebani rakyat Amerika.
Kini, ujian sesungguhnya bagi Washington bukan sekadar kekuatan militer, melainkan ketahanan politik dan ekonomi dalam menghadapi strategi sabar ala Teheran.

Serangan terbatas atau perang panjang—keduanya sama-sama mahal. Pertanyaannya, apakah Amerika siap membayar harganya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *