TEHERAN – Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Rusia dan China terus memberikan dukungan kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan NBC News yang dirilis pada Kamis (5/3/2026).
Saat ditanya apakah Rusia dan China secara aktif membantu Iran dalam konflik yang tengah berlangsung, Araghchi menegaskan bahwa kedua negara tersebut selalu memberikan dukungan kepada Teheran.
Namun, ia menolak memberikan rincian lebih jauh mengenai bentuk bantuan yang diberikan oleh Moskow maupun Beijing.
Wawancara tersebut dilakukan melalui konferensi video dari Teheran di tengah situasi keamanan yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Dalam kesempatan itu, Araghchi juga menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat.
“Iran tidak gentar jika musuh benar-benar mengirim pasukan darat ke wilayah kami,” tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melanjutkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas yang dikaitkan dengan program nuklir negara tersebut.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata meskipun serangan terus berlangsung.
Menurutnya, dalam beberapa konflik sebelumnya justru Israel yang akhirnya meminta penghentian pertempuran.
Ia juga menutup kemungkinan adanya negosiasi dengan Washington dalam waktu dekat.
Araghchi mengungkapkan bahwa sebelumnya Iran sempat melakukan komunikasi dengan utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui pertemuan di Jenewa, Swiss.
Pertemuan tersebut melibatkan menantu Trump sekaligus penasihat Gedung Putih, Jared Kushner.
Namun komunikasi tersebut terhenti setelah kembali terjadi serangan terhadap Iran.
“Selama ini Iran tidak memiliki pengalaman positif dari negosiasi berulang kali dengan Amerika Serikat,” ujar Araghchi.








